Selasa, 05 Juni 2018

Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan


BAB 4
Masyarkat Pedesaan dan Perkotaan

A.                Dampak Positif dan Negatif Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Dampak Positif
            Dalam hal ini desalah yang menempati peringkat paling atas dalam kepemilikannya untuk hal yang positif. Diantaranya adalah kebersamaan yang kental diikuti dengan gotong-royong, kepedulian antara tetangga, kerja keras mereka dalam mendapatkan penghidupan, kehidupan sehari-hari mereka yang tenang dan saling menghormati antara sesame. Kadangkala ada yang menyatakan bahwa masyarakat desa lebih malas dibanding masyarakat kota yang terus bekerja keras demi mendapat makan, hal tersebut salah karena sebenarnya masyarakat kotalah yang malas dalam melakukan sesuatu mereka bekerja keras dengan pikiran mereka sehingga tampak lelah dari luar namun kerja keras mereka hanya membuat keterpurukan pikiran mereka dalam bersosialisasi yang selalu menginginkan gampangnya saja sedangkan masyarakat desa setiap waktu selalu bekerja keras dengan tenaga dan pikiran mereka serta belajar bersabar dengan hidup, seperti contoh dalam memanen memerlukan waktu yang panjang untuk dapat memanen hasil bumi dan dibutuhkan kerja keras saat menanamnya serta kesabaran dalam menuainya. Walaupun begitu masyarakat kota juga memiliki hal positif yang dapat dipetik dalam kehidupan mereka, yaitu informasi, pengetahuan, teknologi dan kedinamisan mereka dalam berkembang.

Dampak Negatif
                        Dalam hal kenegatifan suatu komunitas, kotalah yang menempati urutan pertama dalam tingkat kesadaran masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakatnya yang beragam dan kondisi social dari lingkungan kota itu sendiri, dengan berbagai pengaruh yang berasal dari berbagai sumber serta bidang yang menyertainya. Sisi negative dari kota dapat dilihat dari kebersamaan masyarakatnya yang kurang dan biasanya akan tercipta kelompok-kelompok tertentu yang memiliki perbedaan pandangan, kepedulian yang makin berkurang diantara sesama juga merupakan salah satu hal yang seharusnya perlu dihindari. Hal-hal tersebutlah yang biasanya akan menyebabkan pertikaian diantara kelompok tertentu dengan mengrsampingkan norma-norma yang ada. Sedangkan di pedesaan hal negative yang dapat terlihat adalah masyarakat desa yang kurang dalam mendapat informasi actual dan disusul dengan keterlambatan mereka dalam menerima informasi karena kondisi wilayah atau geografis desa mereka, serta pemahaman mereka mengenai hal baru yang ada di dunia.

Negara dan Warganegara


BAB 3
Negara dan Warganegara
A.                Bentuk Negara Indonesia
            Bentuk Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik atau lebih dikenal dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan bentuk pemerintahan adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada rangkaian institusi politik yang digunakan untuk mengorganisasikan suatu negara untuk menegakkan kekuasaannya atas suatu komunitas politik. Definisi ini tetap berlaku bahkan untuk pemerintahan yang tidak sah atau tidak berhasil menegakkan kekuasaannya. Tak tergantung dari kualitasnya, pemerintahan yang gagalpun tetap merupakan suatu bentuk pemerintahan.
            Dalam berbagai literatur hukum dan apalagi dalam penggunaannya sehari-hari, konsep Bentuk Negara seringkali dicampuradukkan dengan konsep Bentuk Pemerintahan. Hal ini juga tercermin dalam perumusan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 ayat (1) yang menyebutkan bahwa: “Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk republik”. Dari kalimat ini tergambar bahwa the founding fathers Indonesia sangat menekankan pentingnya konsepsi Negara Kesatuan sebagai definisi hakiki negara Indonesia (hakikat negara Indonesia). Bentuk dari negara kesatuan Indonesia itu ialah republik. Jadi jelaslah bahwa konsep bentuk negara yang diartikan disini adalah republik yang merupakan pilihan lain dari kerajaan (monarki) yang telah ditolak oleh para anggota BPUPKI mengenai kemungkinan penerapannya untuk Indonesia modern.

Kelemahan rumusan di atas terkait dengan pengertian bentuk negara yang tidak dibedakan dari pengertian bentuk pemerintahan. Padahal kedua konsep ini sangat berbeda satu sama lain. Karena yang dibicarakan adalah bentuk negara berarti bentuk organ atau organisasi negara itu sebagai keseluruhan. Jika yang dibahas bukan bentuk organnya, melainkan bentuk penyelenggaraan pemerintahan atau bentuk penyelenggaraan kekuasaan maka istilah yang lebih tepat dipakai adalah istilah bentuk pemerintahan.











B.                Apa yang Telah Kita Lakukan kepada Negara

            Memang tidak banyak yang telah saya lalukan kepada negara, tapi paling tidak saya telah berusaha menjadi seorang warga negara yang baik. Hal yang telah saya lakukan seperti mendukung usaha kecil menengah di Indonesia. Karena, sebetulnya merekalah yang menjadi tulang punggung perekonomian di Indonesia. Jadi, ketimbang belanja di supermarket, kamu bisa berbelanja di toko kelontong, atau ke pasar sekitar tempat tinggalmu. Penggunaan produk lokal dapat perlahan-lahan mendongkrak nilai mata uang rupiah. Sedangkan penggunaan produk asing yang berlebihan malah akan semakin menjatuhkannya. Sebaiknya, kita bersama-sama menepikan pikiran bahwa barang impor lebih bagus daripada produk lokal. Kita juga sebagai warga negara harus bisa menjaga dan bertanggung jawab terhadapa lingkungan kita. Hingga kini, bencana banjir di berbagai wilayah di Indonesia masih nggak terhindarkan. Daripada duduk manis menunggu langkah pemerintah untuk menyelesaikannya, sebaiknya kita mulai dari diri kita sendiri. Setelah memulai dari diri sendiri, kita bisa mengajak orang lain dengan berbagai cara seperti membuat campaign, tulisan, gerakan pembersihan sampah bersama teman-teman, dan masih banyak lagi. Asal ada niat, kita semua pasti bisa bersama-sama membuat Indonesia menjadi lebih baik lagi

Keluarga dan Masyarakat


Bab 2
 Keluarga dan Masyarakat
A.    Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyrakat yang terdiri dari kepala keluarga dan anggota keluarga, yaitu terdiri atas ayah, ibu dan anak. Pengertian lain dari keluarga menurut Wikipedia adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Fungsi keluarga dibagi ke dalam beberapa aspek yaitu :
1.      Fungsi Secara Biologis
·         Untuk Meneruskan Keturunan.
·         Memelihara dan membesarkan anak.
·         Merawat dan membesarkan anak dan anggota keluarga

2.      Fungsi Secara Psikologis
·         Memberikan rasa aman dan nyaman kepada anggota keluarga.
·         Memberikan perhatian untuk anggota keluarga.
·         Membina kepribadian.
·         Memberikan identitas keluarga.

3.      Fungsi Sosialisasi
·         Mengajarkan sosialisasi kepada anak.
·         Membentuk norma-norma yang baik kepada anak.
·         Meneruskan nilai-nilai budaya.

4.      Fungsi Secara Ekonomi
·         Mencari sumber-sumber penghasilan untuk keluarga.
·         Pengaturan penggunaan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
·         Menabung untuk memenuhi kebutuhan anak di masa depan, sebagai jaminan hari tua.

5.      Fungsi Secara Pendidikan
·         Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan
membentuk anak sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya.
·         Mempersiapkan anak untuk kehidupan yang akan datang dan
mempersiapkan anak untuk memenuhi perannya sebagai orang dewasa.
·         Mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya

B.     Hubungan Individu dengan Masyarakat
            Sebagai makhluk sosial seorang individu tidak dapat berdiri sendiri, saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya, dan saling mengadakan hubungan sosial di tengah–tengah masyarakat.Keluarga dengan berbagai fungsi yang dijalankan adalah sebagai wahana dimana seorang individu mengalami proses sosialisasi yang pertama kali, sangat penting artinya dalam mengarahkan terbentuknya individu menjadi seorang yang berpribadi.
            Sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat, keluarga mempunyai korelasi fungsional dengan masyarakat tertentu, oleh karena itu dalam proses pengembangan individu menjadi seorang yang berpribadi hendaknya diarahkan sesuai dengan struktur masyarakat yang ada, sehingga seorang individu  menjadi seorang yang dewasa dalam arti mampu mengendalikan diri dan melakukan hubungan – hubungan sosial di dalam masyarakat yang cukup majemuk.
            Jadi, hubungan antara individu, keluarga, dan masyarakat saling terikat dan tidak bisa dipisah kan dari sebuah kehidupan di dunia ini karna sebagai individu tidak bisa hidup sendiri tanpa ada nya bantuan dari individu lain, keluarga juga merupakan gabungan dari beberapa individu dimana dari keluarga lah kehidupan sosial bermula dan dari keluarga pula di ajarka norma-norma luhur dalam kehidupan, masyarakat juga merupakan gabungan yang terdiri dari individu dan keluarga yang bertempat pada suatu daerah yang saling terikat.

Penduduk Masyarakat dan Kebudayaan


BAB 1
Penduduk Masyarakat dan Kebudayaan
A.                Pengertian Pertumbuhan Penduduk
            Pertumbuhan Penduduk adalah suatu perubahan populasi sewaktu-waktu, dan bisa dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi memakai “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering dipakai secara informal untuk sebutan demografia s nilai pertumbuhan penduduk, dan dipakai untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.
B.                 Pertumbuhan dan Perkembangan Kebudayaan Indonesia
                Secara garis besar kebudayaan Indonesia dapat kita klasifikasikan dalam dua kelompok besar. Yaitu Kebudayaan Indonesia Klasik dan Kebudayaan Indonesia Modern. Para ahli kebudayaan telah mengkaji dengan sangat cermat akan kebudayaan klasik ini. Mereka memulai dengan pengkajian kebudayaan yang telah ditelurkan oleh kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sebagai layaknya seorang pengkaji yang obyektif, mereka mengkaji dengan tanpa melihat dimensi-dimensi yang ada dalam kerajaan tersebut. Mereka mempelajari semua dimensi tanpa ada yang dikesampingkan. Adapun dimensi yang sering ada adalah seperti agama, tarian, nyanyian, wayang kulit, lukisan, patung, seni ukir, dan hasil cipta lainnya.
Seorang pengamat memberikan argumennya tentang kebudayaan indonesia modern. Dia mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia modern dimulai ketika bangsa Indonesia merdeka. Bentuk dari deklarasi ini menjadikan bangsa Indonesia tidak dalam kekangan dan tekanan. Dari sini bangsa Indonesia mampu menciptakan rasa dan karsa yang lebih sempurna.
Kebudayaan Indonesia yang multikultur seperti itu, ketika dikaji dari sisi dimensi waktu, dapat dibagi pula pengertiannya :
1.         Pertama, kebudayaan (Indonesia) adalah kebudayaan yang sudah terbentuk. Definisi ini mengarah kepada pengertian bahwa kebudayaan Indonesia adalah keseluruhan pengetahuan yang tersosialisasi/internalisasi dari generasi-generasi sebelumnya, yang kemudian digunakan oleh umumnya masyarakat Indonesia sebagai pedoman hidup. Jika dilacak, kebudayaan ini terdokumentasi dalam artefak/atau teks. Melihat kebudayaan dari sisi ini, kita akan mudah terjebak kepada dua hal. Pertama, apa yang sudah ada itu diterima sebagai sesuatu yang sudah baik bahkan paripurna. Ungkapan seperti kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang adiluhung, merupakan contoh terbaiknya. Di sini, apa yang disebut kebudayaan adalah dokumen text (Jawa termasuk sastra-sastra lisan) yang harus dijadikan pedoman kalau kita tidak ingin kehilangan ke-jawa-annya. Ungkapan: “ora Jawa” atau “durung Jawa” adalah ungkapan untuk menilai laku (orang Jawa) yang sudah bergeser dari text tersebut.
2.         Kedua, kebudayaan (Indonesia) adalah kebudayaan yang sedang membentuk. Pada definisi kedua ini menjelaskan adanya kesadaran bahwa sebetulnya, tidak pernah (baca: terlalu sedikit) ada masyarakat manapun di dunia ini yang tidak bersentuhan dengan kebudayaan dan peradaban lain, termasuk kebudayaan Indonesia atau kebudayaan Jawa. Hanya saja ada pertanyaan serius untuk memilih definisi kedua ini, yaitu bagaimana lalu kebudayaan kita berdiri tegak untuk mampu menyortir berbagai elemen kebudayaan asing yang cenderung capitalism yang notabene, dalam batas-batas tertentu, negative (baca: tidak cocok)? Pada saat yang sama, kebudayaan global yang kapitalistik itu, telah masuk ke berbagai relung-relung kehidupan masyarakat “tanpa” bisa dicegah. Kalau begitu, pertanyaannya ialah: membatasi, menolak, atau mengambil alih nilai-nilai positif yang ditawarkan. Persoalan seperti ini dulu sudah pernah menjadi perdebatan para ahli kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Armen Pane dkk versus Sutan Takdir Alisyahbana (Lihat pada buku Polemik Kebudayaan), dan sampai sekarang pun sikap kita tidak jelas juntrungnya.
3.         Ketiga, adalah kebudayaan (Indonesia) adalah kebudayaan yang direncanakan untuk dibentuk. Ini adalah definisi yang futuristic, yang perlu hadir dan dihadirkan oleh warga bangsa yang menginginkan Indonesia ke depan HARUS LEBIH BAIK. Inilah yang seharusnya menjadi focus kajian serius bagi pemerhati Indonesia, wa bil khusus para mahasiswa dan dosen-dosen ilmu budaya.
Kondisi sosial budaya Indonesia saat ini adalah sebagai berikut :
1.         Bahasa, sampai saat Indonesia masih konsisten dalam bahasa yaitu bahasa Indonesia. Sedangkan bahasa-bahasa daerah merupakan kekayaan plural yang dimiliki bangsa Indonesia sejak jaman nenek moyang kita. Bahasa asing (Inggris) belum terlihat popular dalam penggunaan sehari-hari, paling pada saat seminar, atau kegiatan ceramah formal diselingi denga bahasa Inggris sekedar untuk menyampaikan kepada audien kalau penceramah mengerti akan bahasa Inggris.
2.         Sistem teknologi, perkembangan yang sangat menyolok adalah teknologi informatika. Dengan perkembangan teknologi ini tidak ada lagi batas waktu dan negara pada saat ini, apapun kejadiannya di satu negara dapat langsung dilihat di negara lain melalui televisi, internet atau sarana lain dalam bidang informatika.
3.         Sistem mata pencarian hidup/ekonomi. Kondisi pereko-nomian Indonesia saat ini masih dalam situasi krisis, yang diakibatkan oleh tidak kuatnya fundamental ekonomi pada era orde baru. Kemajuan perekonomian pada waktu itu hanya merupakan fatamorgana, karena adanya utang jangka pendek dari investor asing yang menopang perekonomian Indonesia.
4.         Organisasi Sosial. Bermunculannya organisasi sosial yang berkedok pada agama (FPI, JI, MMI, Organisasi Aliran Islam/Mahdi), Etnis (FBR, Laskar Melayu) dan Ras.
5.         Sistem Pengetahuan. Dengan adanya LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) diharapkan perkembangan pengetahuan Indonesia akan terus berkembang sejalan dengan era globalisasi.
6.         Religi. Munculnya aliran-aliran lain dari satu agama yang menurut pandangan umum bertentangan dengan agama aslinya. Misalnya : aliran Ahmadiyah, aliran yang berkembang di Sulawesi Tengah (Mahdi), NTB dan lain-lain.
7.         Kesenian. Dominasi kesenian saat ini adalah seni suara dan seni akting (film, sinetron). Seni tari yang dulu hampir setiap hari dapat kita saksikan sekarang sudah mulai pudar, apalagi seni yang berbau kedaerahan. Kejayaan kembali wayang kulit pada tahun 1995 – 1996 yang dapat kita nikmati setiap malam minggu, sekarang sudah tidak ada lagi. Seni lawak model Srimulat sudah tergeser dengan model Extravagansa. Untuk kesenian nampaknya paling dinamis perkembangannya.
8.         Sedang menghadapi suatu pergeseran-pergeseran atau Shift budaya. Hal ini mungkin dapat difahami mengingat derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai budaya baru serta ketidak mampuan kita dalam membendung serangan itu dan mempertahankan budaya dasar kita.

Jumat, 03 November 2017

Manusia dan Keadilan

Rangkuman Bab 7 Manusia dan Keadilan

A.   Pengertian Keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrim yang terlalu banyak dan terlalu sedikit, kedua ujung tersebut menyangkut dua orang atau benda. Apabila kedua orang tersebut memiliki kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang akan menerima bagian yang sama, kalau ketetapan tersebut tidak sama maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidakadilan.
Menurut Plato keadilan itu diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri, dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
Menurut Socrates keadilan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Menurut Kong Hu Chu keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, ayah sebagai ayah, raja sebagai raja, dan masing masing telah melaksanakan kewajibannya.

B.   Keadilan Sosial
Disaat ada kata “keadilan sosial” maka kita akan teringat tentang Pancasila, yang mana sila kelima berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.  Dalam dokumen lahirnya Pancasila yang diusulkan Bung Karno tentang adanya prinsip kesejahteraan sebagai salah satu dasar negara.
Panitia ad-hoc MPRS 1966 memberikan perumusan sebagai berikut :
“Sila keadilan sosial mengandung prinsip bahwa setiap orang di Indonesia akan mendapatkan perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, ekonomi dan kebudayaan”.
Dalam TAP MPR RI No.II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila dicantumkan ketentuan sebagai berikut :
“Dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia”.
Keadilan dan ketidakadilan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia karena dalam hidup manusia akan menghadapi keadilan atau ketidakadilan setiap harinya. Oleh sebab itu keadilan dan ketidakadilan menimbulkan daya kreativitas manusia, banyak seni yang lahir dari imajinasi ketidakadilan, seperti drama, puisi, novel, musik, dan lainnya.

C.      Berbagai Macan Keadilan
A)     Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang  menurut sifat dasarnya paling cocok baginya.
Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat, serta keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat melakukan fungsinya secara baik menurut kemampuannya.
Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidakserasian. Misalnya, seorang petugas pertanian mencampuri urusan petugas perhutanan. Bila hal itu dilakukan maka akan terjadi kekacauan.
B)      Keadilan Distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (Justice is done when equals are treated equally).
C)      Keadilan Komulatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles  pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim akan menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dan ketertiban dalam masyarakat.

D.   Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada, yang mana kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Barang siapa berkata jujur serta bertindak jujur sesuai dengan kenyataan, artinya orang itu berbuat benar. Teguhlah pada kebenaran walaupun kejujuran dapat merugikanmu, serta jangan pula berdusta walaupun dustamu dapat menguntungkanmu.
Orang bodoh yang jujur lebih baik daripada orang pandai yang lancung. Barang siapa tidak dapat dipercaya tutur katanya, atau tidak menepati janji dan kesanggupannya, teramasuk golongan orang munafik sehingga tidak menerima belas kasihan Tuhan. Pada hakekatnya kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.

E.    Kecurangan
Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran, dan sama dengan licik, meskipun tidak serupa, sudah tentu kecurangan adalah sebagai lawan jujur.
Kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan isi hati nuraninya. Atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan berusaha. Sudah tentu keuntungan yang diperoleh dengan tidak baik.
Kecurangan dapat menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang apabila masyarakat disekelilingnya hidup menderita.

F.    Pemulihan Nama Baik
Nama baik merupakan tujuan utama hidup manusia. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi masyarakat disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
Penjagaan terhadap nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan, atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku perbuatannya. Yang dimaksud tingkah laku dan perbuatan itu adalah cara berbahasa, bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.
Untuk memulihkan nama baik, manusia harus bertaubat atau minta maaf. Taubat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat budi darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepada sesama yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang, tanpa pamrih, takwa kepada Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipujuk.

G.   Pembalasan
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain, reaksi tersebut dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa. Misalnya seseorang memberikan makanan kepada orang lain, lalu orang lain tersebut akan membalasnya dengan memberikan minuman, dan hal tersebut merupakan pembalasan.
Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang baik akan mendapat balasan yang baik pula. Maka sebaliknya apabila pergaulan yang buruk akan mendapat balasan yang buruk pula.
Pada dasarnya, manusia adalah mahluk bermoral dan mahluk bersosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau merusak hak dan kewajiban manusia lain.

Oleh karena itu setiap manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau dirusak, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.

Manusia dan Penderitaan

Rangkuman Bab 6 Manusia dan Penderitaan

A.   Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita yang artinya menanggung atau menahan sesuatu yang tidak menyenangkan, penderitaan dapat berupa lahir atau batin ataupun lahir batin. Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia.
Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan “resiko” hidup. Tuhan memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bermakna agar manusia sadar untuk tidak berpaling dari-Nya. Biasanya manusia diberi tanda sebagai peringatan yang dapat berupa mimpi atau berasal dari realita.

B.   Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan jasmani ataupun rohani, akibat dari siksaan terhadap seseorang dapat menimbulkan penderitaan. Siksaan yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari banyak terjadi dan banyak dibaca diberbagai media massa.
Siksaan bersifat psikis adalah sebagai berikut :
a)      Kebimbangan, hal ini dialami oleh seseorang apabila ia tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil. Kebimbangan ini juga dapat mengakibatkan seseorang merasa tertekan dan merasa terbebani pikirannya dan menjadi sebuah siksaan bagi orang tersebut. Tetapi apabila seseorang yang kuat dalam berpikir ia akan cepat mengambil keputusan, sehingga kebimbangan akan dapat cepat teratasi.
b)      Kesepian, hal ini dialami oleh seseorang apabila ia merasa sepi dalam dirinya sendiri atau jiwanya walaupun ia dalam lingkungan orang ramai. Kesepian dengan keadaan sepi tidak dapat disamakan karena seseorang yang berada didalam keadaan sepi belum tentu hati mereka sepi seperti seorang ahli ibadah yang sedang beribadah dalam keadaan sepi.
c)       Ketakutan, hal ini dialami karena berbagai macam sumber yang mana setiap orang memiliki ketakutan terhadap sesuatu atau terhadap hal yang tertentu. Perasaan ini tidak mengenal lingkungan ramai atau sepi, perasaan ini dapat terjadi walaupun keadaan lingkungan sekitar sedang ramai dan saat keadaan sepi tidak akan selalu merasakan ketakutan. Rasa ketakutan yang berlebihan dapat disebutkan sebagai phobia yang sifatnya psikis.

C.    Kekalutan Mental
Kekalutan mental merupakan penderitaan batin, atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga bertingkah kurang wajar.


Gejala awal bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah sebagai berikut :
1.       Nampak pada badan yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung.
2.       Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah sebagai berikut :
1.       Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya.
2.       Usaha mempertahankan diri dengan cara negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara bertahan dirinya salah, pada orang yang tidak menderita gangguan kejiwaan bila menghadapi persoalan, justru lekas memecahkan masalah tersebut, sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi bukan soal melarikan diri dari persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
3.       Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan.
Penyebab timbulnya kekalutan mental antara lain :
1.       Kepribadian yang lemah, hal ini terjadi akibat kondisi jasamni atau mental yang kurang sempurna. Hal-hal tersebut sering menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
2.       Terjadinya konflik sosial budaya, hal initerjadi akibat norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi. Misalnya orang pedesaan yang berat menyesuaikan kehidupan dengan kehidupan kota, serta orang tua yang telah mapan sulit menerima keadaan baru yang jauh berbeda dari masa jayanya dulu.
3.       Cara pematangan batin, merupakan hal yang salah dalam memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial.

D.   Penderitaan dan Perjuangan
Setiap manusia pasti mengalami penderitaan baik ringan maupun berat. Sebab penderitaan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang sifatnya sebagai kodrat. Karena itu terserah kepada manusia itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan tersebut semaksimal mungkin, atau menghindari bahkan menghilangkan sama sekali.
Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Harus selalu ingat bahwa manusia yang merencanakan dan Tuhan lah yang memutuskan. Sebab kelalaian manusia lah yang menjadi sumber malapetaka yang menimbulkan penderitaan.

E.    Penderitaan, Media Massa, dan Seniman
Dalam era global seperti sekarang ini kemungkinan terjadi penderitaan itu lebih besar. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya kemajuan teknologi dan sebagainya yang menyejahterakan manusia dan sebagian lainnya membuat manusia menderita. Penciptaan bom atom, reaktor nuklir, pabrik senajata, peluru kendali, pabrik bahan kimia merupakan sumber peluang terjadinya penderitaan manusia. Hal ini sudah terjadi seperti bom atom yang dijatuhkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki, kebocoran reaktor nuklir di Chernobyl, kebocoran gas beracun di India, penggunaan peluru kendali dalam perang Irak, dan berbagai penggunaan teknologi yang menyebabkan penderitaan kepada manusia.
Media massa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati. Begitupula komunikasi yang dilakukan para seniman yang menyalurkan informasi melalui karya seni agar kita dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni.

F.    Penderitaan dan Sebab-Sebabnya
Secara sederhana sebab-sebab timbulnya penderitaan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
A)     Penderitaan yang timbul karena perbuatan manusia
Penderitaan yang menimpa manusia ini berasal dari manusia lain yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini menyangkut dengan hubungan antar manusia dengan sesamanya. Hal ini bisa terjadi dimana saja baik dijalanan ataupun saat kita berada didalam suatu instansi bahkan saat kita berada dirumah. Perbedaan nasib baik dan buruk juga menjadi pemicu manusia untuk dicelakai atau mencelakai manusia lain sebab terdapat perasaan iri apabila manusia lain bernasib baik dan ingin menghancurkan nasib baik tersebut.
B)      Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan atau azab Tuhan
Penderitaan yang menimpa manusia yang berasal dari penyakit atau siksa/azab dari Tuhan. Hal ini menguji kesabaran, tawakal, dan optimisme dari manusia untuk mengatasi penderitaan tersebut. Sebab penyakit yang diberikan, serta siksa/azab yang diberikan oleh Tuhan hanyalah sebagai peringatan kepada kita agar kita tidak berpaling dari-Nya, dan Tuhan akan menggantikannya dengan keadaan yang lebih baik ketika kita mampu melewati hal tersebut dengan baik penuh kesabaran, tawakal, optimis, dan tetap berfikir positif terhadap segala penyakit, siksa/azab yang diberikan kepada kita.

G.   Pengaruh Penderitaan
Penderitaan yang dialami oleh manusia mungkin akan memperoleh pengaruh yang bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap yang negatif akan menyebabkan penyesalan, kekecewaan, putus asa, dan ingin mengakhiri hidup. Sedangkan sikap yang positif akan menjadikan manusia menjadi optimis dalam menghadapi penderitaan hidup karena hidup bukan hanya rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan hanyalah bagian kecil dalam kehidupan.

Review Paten dan Hak Cipta

      Dalam Undang-undang Hak Cipta tertulis bahwa Undang-Undang ini bertujuan untuk melindungi dan memberikan jaminan kepastian hukum bagi...