Jumat, 03 November 2017

Manusia dan Keadilan

Rangkuman Bab 7 Manusia dan Keadilan

A.   Pengertian Keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrim yang terlalu banyak dan terlalu sedikit, kedua ujung tersebut menyangkut dua orang atau benda. Apabila kedua orang tersebut memiliki kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang akan menerima bagian yang sama, kalau ketetapan tersebut tidak sama maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidakadilan.
Menurut Plato keadilan itu diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri, dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
Menurut Socrates keadilan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Menurut Kong Hu Chu keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, ayah sebagai ayah, raja sebagai raja, dan masing masing telah melaksanakan kewajibannya.

B.   Keadilan Sosial
Disaat ada kata “keadilan sosial” maka kita akan teringat tentang Pancasila, yang mana sila kelima berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.  Dalam dokumen lahirnya Pancasila yang diusulkan Bung Karno tentang adanya prinsip kesejahteraan sebagai salah satu dasar negara.
Panitia ad-hoc MPRS 1966 memberikan perumusan sebagai berikut :
“Sila keadilan sosial mengandung prinsip bahwa setiap orang di Indonesia akan mendapatkan perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, ekonomi dan kebudayaan”.
Dalam TAP MPR RI No.II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila dicantumkan ketentuan sebagai berikut :
“Dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia”.
Keadilan dan ketidakadilan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia karena dalam hidup manusia akan menghadapi keadilan atau ketidakadilan setiap harinya. Oleh sebab itu keadilan dan ketidakadilan menimbulkan daya kreativitas manusia, banyak seni yang lahir dari imajinasi ketidakadilan, seperti drama, puisi, novel, musik, dan lainnya.

C.      Berbagai Macan Keadilan
A)     Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang  menurut sifat dasarnya paling cocok baginya.
Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat, serta keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat melakukan fungsinya secara baik menurut kemampuannya.
Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidakserasian. Misalnya, seorang petugas pertanian mencampuri urusan petugas perhutanan. Bila hal itu dilakukan maka akan terjadi kekacauan.
B)      Keadilan Distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (Justice is done when equals are treated equally).
C)      Keadilan Komulatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles  pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim akan menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dan ketertiban dalam masyarakat.

D.   Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada, yang mana kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Barang siapa berkata jujur serta bertindak jujur sesuai dengan kenyataan, artinya orang itu berbuat benar. Teguhlah pada kebenaran walaupun kejujuran dapat merugikanmu, serta jangan pula berdusta walaupun dustamu dapat menguntungkanmu.
Orang bodoh yang jujur lebih baik daripada orang pandai yang lancung. Barang siapa tidak dapat dipercaya tutur katanya, atau tidak menepati janji dan kesanggupannya, teramasuk golongan orang munafik sehingga tidak menerima belas kasihan Tuhan. Pada hakekatnya kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.

E.    Kecurangan
Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran, dan sama dengan licik, meskipun tidak serupa, sudah tentu kecurangan adalah sebagai lawan jujur.
Kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan isi hati nuraninya. Atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan berusaha. Sudah tentu keuntungan yang diperoleh dengan tidak baik.
Kecurangan dapat menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang apabila masyarakat disekelilingnya hidup menderita.

F.    Pemulihan Nama Baik
Nama baik merupakan tujuan utama hidup manusia. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi masyarakat disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
Penjagaan terhadap nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan, atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku perbuatannya. Yang dimaksud tingkah laku dan perbuatan itu adalah cara berbahasa, bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.
Untuk memulihkan nama baik, manusia harus bertaubat atau minta maaf. Taubat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat budi darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepada sesama yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang, tanpa pamrih, takwa kepada Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipujuk.

G.   Pembalasan
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain, reaksi tersebut dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa. Misalnya seseorang memberikan makanan kepada orang lain, lalu orang lain tersebut akan membalasnya dengan memberikan minuman, dan hal tersebut merupakan pembalasan.
Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang baik akan mendapat balasan yang baik pula. Maka sebaliknya apabila pergaulan yang buruk akan mendapat balasan yang buruk pula.
Pada dasarnya, manusia adalah mahluk bermoral dan mahluk bersosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau merusak hak dan kewajiban manusia lain.

Oleh karena itu setiap manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau dirusak, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.

Manusia dan Penderitaan

Rangkuman Bab 6 Manusia dan Penderitaan

A.   Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita yang artinya menanggung atau menahan sesuatu yang tidak menyenangkan, penderitaan dapat berupa lahir atau batin ataupun lahir batin. Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia.
Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan “resiko” hidup. Tuhan memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bermakna agar manusia sadar untuk tidak berpaling dari-Nya. Biasanya manusia diberi tanda sebagai peringatan yang dapat berupa mimpi atau berasal dari realita.

B.   Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan jasmani ataupun rohani, akibat dari siksaan terhadap seseorang dapat menimbulkan penderitaan. Siksaan yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari banyak terjadi dan banyak dibaca diberbagai media massa.
Siksaan bersifat psikis adalah sebagai berikut :
a)      Kebimbangan, hal ini dialami oleh seseorang apabila ia tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil. Kebimbangan ini juga dapat mengakibatkan seseorang merasa tertekan dan merasa terbebani pikirannya dan menjadi sebuah siksaan bagi orang tersebut. Tetapi apabila seseorang yang kuat dalam berpikir ia akan cepat mengambil keputusan, sehingga kebimbangan akan dapat cepat teratasi.
b)      Kesepian, hal ini dialami oleh seseorang apabila ia merasa sepi dalam dirinya sendiri atau jiwanya walaupun ia dalam lingkungan orang ramai. Kesepian dengan keadaan sepi tidak dapat disamakan karena seseorang yang berada didalam keadaan sepi belum tentu hati mereka sepi seperti seorang ahli ibadah yang sedang beribadah dalam keadaan sepi.
c)       Ketakutan, hal ini dialami karena berbagai macam sumber yang mana setiap orang memiliki ketakutan terhadap sesuatu atau terhadap hal yang tertentu. Perasaan ini tidak mengenal lingkungan ramai atau sepi, perasaan ini dapat terjadi walaupun keadaan lingkungan sekitar sedang ramai dan saat keadaan sepi tidak akan selalu merasakan ketakutan. Rasa ketakutan yang berlebihan dapat disebutkan sebagai phobia yang sifatnya psikis.

C.    Kekalutan Mental
Kekalutan mental merupakan penderitaan batin, atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga bertingkah kurang wajar.


Gejala awal bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah sebagai berikut :
1.       Nampak pada badan yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung.
2.       Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah sebagai berikut :
1.       Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya.
2.       Usaha mempertahankan diri dengan cara negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara bertahan dirinya salah, pada orang yang tidak menderita gangguan kejiwaan bila menghadapi persoalan, justru lekas memecahkan masalah tersebut, sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi bukan soal melarikan diri dari persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
3.       Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan.
Penyebab timbulnya kekalutan mental antara lain :
1.       Kepribadian yang lemah, hal ini terjadi akibat kondisi jasamni atau mental yang kurang sempurna. Hal-hal tersebut sering menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
2.       Terjadinya konflik sosial budaya, hal initerjadi akibat norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi. Misalnya orang pedesaan yang berat menyesuaikan kehidupan dengan kehidupan kota, serta orang tua yang telah mapan sulit menerima keadaan baru yang jauh berbeda dari masa jayanya dulu.
3.       Cara pematangan batin, merupakan hal yang salah dalam memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial.

D.   Penderitaan dan Perjuangan
Setiap manusia pasti mengalami penderitaan baik ringan maupun berat. Sebab penderitaan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang sifatnya sebagai kodrat. Karena itu terserah kepada manusia itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan tersebut semaksimal mungkin, atau menghindari bahkan menghilangkan sama sekali.
Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Harus selalu ingat bahwa manusia yang merencanakan dan Tuhan lah yang memutuskan. Sebab kelalaian manusia lah yang menjadi sumber malapetaka yang menimbulkan penderitaan.

E.    Penderitaan, Media Massa, dan Seniman
Dalam era global seperti sekarang ini kemungkinan terjadi penderitaan itu lebih besar. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya kemajuan teknologi dan sebagainya yang menyejahterakan manusia dan sebagian lainnya membuat manusia menderita. Penciptaan bom atom, reaktor nuklir, pabrik senajata, peluru kendali, pabrik bahan kimia merupakan sumber peluang terjadinya penderitaan manusia. Hal ini sudah terjadi seperti bom atom yang dijatuhkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki, kebocoran reaktor nuklir di Chernobyl, kebocoran gas beracun di India, penggunaan peluru kendali dalam perang Irak, dan berbagai penggunaan teknologi yang menyebabkan penderitaan kepada manusia.
Media massa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati. Begitupula komunikasi yang dilakukan para seniman yang menyalurkan informasi melalui karya seni agar kita dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni.

F.    Penderitaan dan Sebab-Sebabnya
Secara sederhana sebab-sebab timbulnya penderitaan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
A)     Penderitaan yang timbul karena perbuatan manusia
Penderitaan yang menimpa manusia ini berasal dari manusia lain yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini menyangkut dengan hubungan antar manusia dengan sesamanya. Hal ini bisa terjadi dimana saja baik dijalanan ataupun saat kita berada didalam suatu instansi bahkan saat kita berada dirumah. Perbedaan nasib baik dan buruk juga menjadi pemicu manusia untuk dicelakai atau mencelakai manusia lain sebab terdapat perasaan iri apabila manusia lain bernasib baik dan ingin menghancurkan nasib baik tersebut.
B)      Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan atau azab Tuhan
Penderitaan yang menimpa manusia yang berasal dari penyakit atau siksa/azab dari Tuhan. Hal ini menguji kesabaran, tawakal, dan optimisme dari manusia untuk mengatasi penderitaan tersebut. Sebab penyakit yang diberikan, serta siksa/azab yang diberikan oleh Tuhan hanyalah sebagai peringatan kepada kita agar kita tidak berpaling dari-Nya, dan Tuhan akan menggantikannya dengan keadaan yang lebih baik ketika kita mampu melewati hal tersebut dengan baik penuh kesabaran, tawakal, optimis, dan tetap berfikir positif terhadap segala penyakit, siksa/azab yang diberikan kepada kita.

G.   Pengaruh Penderitaan
Penderitaan yang dialami oleh manusia mungkin akan memperoleh pengaruh yang bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap yang negatif akan menyebabkan penyesalan, kekecewaan, putus asa, dan ingin mengakhiri hidup. Sedangkan sikap yang positif akan menjadikan manusia menjadi optimis dalam menghadapi penderitaan hidup karena hidup bukan hanya rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan hanyalah bagian kecil dalam kehidupan.

Manusia dan Keindahan

Rangkuman Bab 5 Manusia dan Keindahan

A. Keindahan
Kata keindahan berasal dari kata indah yang memiliki arti bagus, cantik, elok dan sebagainya. Keindahan tidak dapat dipisahkan dari segi kehidupan manusia. Keindahan dapat ditemukan dimanapun dan kapanpun. Keindahan juga bersifat universal yang artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat ataupun daerah seseorang.
Keindahan dalam arti estetis murni menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Sedangkan dalam arti yang lebih sempit hanya menyangkut benda-benda yang indah dari segi bentuk dan warnanya.

B. Renungan
Kata renungan berasal dari kata renung yang memiliki arti diam dan memikirkan sesuatu dengan mendalam.
a)    Teori Pengungkapan
Teori ini memiliki dalil “Art is an expression of human feeling”. Teori ini bersangkutan dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni.
b)    Teori Metafisik
Teori ini merupakan salah satu teori yang tertua, karena berasal dari karya tulisan Plato yang membahas estetik filsafat, konsepsi keindahan dan teori seni. Menurut Plato seni merupakan tiruan dari realita ilahi.
c)    Teori Psikologis
Teori ini teori penandaan yang memandang seni sebagai suatu lambing atau tanda dari perasaan manusia. Menurut teori pendandaan karya seni itu adalah iconic signs dari proses psikologis yang berlangsung dalam diri manusia, khususnya tanda-tanda dari perasaannya.

C. Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena dan sesuai. Yang mana kata tersebut mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang.
Dalam pengertian perpaduan misalnya, orang berpakaian harus dipadukan warnanya bagian atas dengan bagian bawah, atau disesuaikan dengan kulitnya. Apabila cara memadu itu kurang cocok, maka akan merusak pemandangan. Sebaliknya apabila serasi dan benar maka akan terlihat memukau.

Karena itu dalam keindahan ini, sebagian ahli menjelaskan bahwa keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas/pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kualitas yang paling sering disebut adalah kesatuan(unity), keselarasan(harmony), kesetangkupan(symetri), keseimbangan(balance) dan keterbalikan(contrast).

Senin, 02 Oktober 2017

Manusia dan Cinta Kasih

Rangkuman Bab 4 Manusia dan Cinta Kasih

A. Cinta Kasih
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia  karya W.J.S. Poerwadinata cinta adalah rasa sangat suka atau saying atau sangat kasih atau sangat tertarik hatinya kepada orang lain. Sedangkan kasih adalah perasaan saying atau cinta atau menaruh belas kasihan kepada orang lain.
Walaupun cinta kasih mengandung arti yang menunjukkan persamaan, tetapi terdapat perbedaan diantara keduanya. Cinta merupakan perasaan yang sangat dalam di dalam diri seseorang dan kasih merupakan perwujudan nyata dari cinta.
Menurut Erich Fromm dalam bukunya seni mencinta menyebutkan bahwa cinta itu terutama memberi, bukan menerima. Memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan, dan yang paling penting dalam memberi ialah hal-hal yang sifatnya manusiawi bukan materi.
Menurut Dr. Sarlito W. Sarwono berpendapat bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. Yang dimaksud keterikatan ialah adanya perasaan yang memprioritaskan harus bersama dia, dan harus tetap memilih dia. Yang dimaksud keintiman ialah adanya kebiasaan yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Yang dimaksud dengan kemesraan ialah adanya rasa kangen disaat jauh atau lama tidak bertemu, mengucapkan ungkapan-ungkapan rasa sayang dan lainnya. Dr. Sarlito W. Sarwono mengungkapkan juga bahwa ketiga unsur tersebut tidak sama kuatnya. Terkadang ada yang keterikatannya sangat kuat, tetapi keintiman atau kemesraannya kurang.
Menurut Dr. Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya manajemen cinta menyebutkan bahwa cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang. Cinta merupakan fitrah manusia yang sangat murni yang tak dapat dipisahkan dari kehidupannya.
Cinta tingkat tertinggi bagi ummat Islam adalah kepada Allah, Rasulullah dan berjihad dijalan Allah. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat. Cinta tingkat terendah adalah cinta yang lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal. Bagi orang Islam yang bertakwa sudah menjadi kewajiban bahwa cinta kepada Allah, pada Rasulullah dan berjihad dijalannya merupakan cinta yang tiada duanya.
Cinta tingkat menengah adalah suatu energi yang datang dari perasaan hati dan jiwa. Bermula dari perasaan lembut yang ditanamkan oleh Tuhan dalam hati dan jiwa seseorang yang mana akan menimbulkan adanya perasaaan kasih sayang dan cinta terhadap orang lain.

Cinta tingkat terendah adalah cinta yang paling keji, hina dan merusak rasa kemanusiaan, contohnya seperti berikut :
1.    Cinta kepada thagut. Thagut adalah setan, atau sesuatu yang disembah selain Tuhan. Dalam surat Al-Baqarah, Allah berfirman :
“dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”
2.    Cinta berdasarkan hawa nafsu
3.    Cinta yang lebih mengutamakan kecintaa kepada orang tua, anak istri/suami, perniagaan dan tempat tinggal
Hikmah dari cinta sangatlah besar, dan hanya orang yang telah diberi kefahaman dan kecerdasan oleh Allah sajalah yang mampu merenungkannya. Diantara hikmah tersebut ialah :
1.    Sesungguhnya cinta itu adalah merupakan ujian yang paling berat dan pahit dalam kehidupan manusia, karena setiap cinta akan mengalami berbagai macam rintangan. Apakah seseorang akan menempuh cintanya dengan cara yang terhormat dan mulia? Ataukah ia akan merihnya dengan cara yang rendah dan hina? Apakah ia akan berjual mahal dengan cintanya, ataukah biasa-biasa saja? Apakah ia benar-benar tertarik dengan kekasihnya, atau hanya sekedar main-main saja? Semuanya dapat diketahui setelah mendapatkan rintangan dalam perjalanannya.
2.    Bahwa fenomena cinta yang telah melekat di dalam jiwa manusia merupakan pendorong dan pembangkit yang paling besar di dalam melestarikan kehidupan lingkungan. Kalau bukan karena cinta, tentu manusia tidak akan pernah terdorong gairah hidupnya untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan.
3.    Bahwa fenomena cinta adalah factor utama di dalam kelanjutan hidup manusia, dalam kenal-mengenal antar mereka. Juga untuk saling memanfaatkan kemajuan bangsa. Ia merupakan modal utama di dalam mengenal berbagai macam ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalam keindahan alam, kehidupan dan kemanusiaan.
4.    Fenomena cinta, jika diperhatikan merupakan pengikat paling kuat di dalam hubungan antar anggota keluarga, kerukunan bermasyarakat, mengasihi sesama mahluk hidup, menegakkan keamanan, ketentraman, dan keselamatan di segala penjuru bumi. Cinta merupakan benih dari segala kasih dan sayang, dan segala bentuk persahabatan, dimanapun adanya.

B. Cinta Menurut Ajaran Agama
Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama. Padahal dalam kehidupan manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-kadang mencintai orang lain. Atau juga istri dan anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulullah. Berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Cinta diri
Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya, dan mengaktualisasikan diri. Pun ia mencintai segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada dirinya. Sebaiknya ia membenci segala sesuatu yang menghalanginya untuk hidup, berkembang dan mengaktualisasikan dirinya sendiri. Ia juga membenci segala sesuatu yang mendatangkan rasa sakit, penyakit dan mara bahaya.
Diantara gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah kecintaannya terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua keinginannya dan memudahkan baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup.(QS. Al-‘Adiyat 100:8)
Diantara gejala lain yang menunjukkan kecintaan manusia pada dirinya sendiri ialah permohonannya yang terus menerus agar dikaruniai harta, kesehatan, dan berbagai kebaikan dan kenikmatan hidup lainnya. Dan apabila ia tertimpa bencana, keburukan, atau kemiskinan, ia merasa putus asa dan mengira ia tidak akan bisa memperoleh karunia lagi. (QS. Fushilat 41:49)
Cinta kepada diri sendiri yang terlalu berlebihan dan melewati batas sangatlah tidak baik. Sepatutnya cinta pada diri sendiri diimbangi dengan cinta kepada orang lain dan cinta kepada berbuat kebajikan.
Cinta kepada sesama manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, maka manusia harus membatasi cinta kepada dirinya sendiri dan egoismenya. Hendaknya menyeimbangkan cintanya dengan cinta dan kasih sayang pada orang lain, bekerja sama dengan orang lain dan membantu orang lain.
Al-Qur’an juga menyerukan kepada orang-orang yang beriman agar saling mencintai seperti cinta mereka pada diri mereka sendiri. Hal tersebut bermaksud agar kita tidak berlebihan dalam mencintai diri kita sendiri.
Cinta seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasam antara suami dan istri. Ia merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga : “dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir” (QS. Ar-Rum 30:21)
Cinta seksual merupakan hal yang penting karena untuk melahirkan keturunan demi kelangsungan jenis. Lewat dorongan inilah terbentuk keluarga. Dari keluarga terbentuk masyarakat dan bangsa. Dengan demikian bumi pun menjadi sangat ramai, berbagai bangsa-bangsa saling kenal mengenal, kebudayaan berkembang, dan ilmu pengetahuan dan perindustrian menjadi maju.

Cinta kebapakan
Mengingat bahwa antara ayah dan anak-anaknya tidak terjalin oleh ikatan-ikatan fisiologis seperti yang menghubungkan si ibu dengan anak-anaknya, maka para ahli ilmu jiwa modern berpendapat bahwa dorongan kebapakan bukanlah dorongan fisiologis seperti halnya dorongan keibuan, melainkan dorongan psikis. Dorongan ini nampak jelas dalam cinta bapak kepada anak-anaknya karena mereka sumber kesenangan dan kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggaan dan merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dan kehidupan dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia. Ini terlihat jelas dalam do’a nabi Zakaria as yang memohon kepada Allah semoga ia dikaruniai seorang anak yang akan mewarisinya dan keluarga Ya’qub :
“Ia berkata :  “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” (QS. Maryam 19:4-6)

Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia yang paling bening, jernih dan spiritual ialah cintanya keada Allah dan kerinduan kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian dan do’anya saja, tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua tingkah laku dan tindakannya kepada Allah mengharapkan penerimaan dan ridha-Nya :
“katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (QS Ali Imran 3:31)

Cinta kepada Rasul
Cinta kepada rasul yang diutus Allah sebagai rahmah bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya. Seorang mukmin yang benar-benar beriman sepenuh hati akan mencintai Rasulullah yang telah menanggung derita dakwah Islam, berjuang dengan penuh segala kesulitan sehingga Islam tersebar diseluruh penjuru dunia, dan membawa kemanusiaan dari kekelaman kesesatan menuju cahaya petunjuk

C. Kasih Sayang
Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang maka retaklah keutuhan rumah tangga tersebut. Kasih sayang dapat dirasakan oleh semua orang dan semua kalangan. Berikut perbedaan pemberian kasih sayang :
1.    Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat pasif.
2.    Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat aktif
3.    Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat pasif
4.    Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat aktif

D. Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata mesra yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan yang akrab dan baik antara pria dengan wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga. Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam.
Filsuf Rusia, Salovjef dalam bukunya makna kasih menyebutkan bahwa “jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secar serius, ia terlempar ke luar dari cinta diri. Ia mulai hidup untuk orang lain”.
Yose Ortage Y Gasset dalam novelnya “On Love” menyebutkan bahwa “dikedalaman sanubarinya seseorang pencinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obyek cintanya. Persatuan bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”.
Kemampuan mencinta memberi nilai hidup kita dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.
E.  Pemujaan
Pemujaan adalah manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang dapat diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya. Apa sebab itu terjadi adalah karena Tuhan mencipta alam semesta. Seperti dalam  surat Al-Furqon ayat 59-60 yang menyatakan, “Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa diantara keduanya dalam enam rangkaian masa, kemudian dia bertahta di atas singgasana-Nya. Dia maha pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya tentang soal-soal apa yang perlu diketahui”. Selanjutnya ayat 60 “Bila dikatakan kepada mereka, sujudlah kepada Tuhan yang maha pengasih”.
Tuhan adalah pencipta, namun Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintahnya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Dalam surat Al-Mu’minin ayat 98 dikatakan, “Dan aku berlindung kepada-Mu. Ya Tuhanku, dari kehadiran-Nya didekatku”. Karena itu jelaslah bagi kita semua, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri. Dan penciptan semesta untuk manusia

F.  Belas Kasihan
Kata kasihan atau rahmah memiliki arti bersimpati kepada nasib atau keadaan yang diderita orang lain. Dalam suar Al-Qolam ayat 4, “maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT”. Perbuatan atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan.

a.   Cara-cara menumpahkan belas kasihan
Dalam kehidupan banyak sekali yang harus kita kasihani dan banyak cara kita menumpahkan belas kasihan. Yang perlu kita kasihani yaitu : yatim piatu, orang-orang yang jompo yang tidak mempunyai ahli waris, pengemis yang benar-benar tidak mampu bekerja, orang sakit di rumah sakit, orang cacat, masyarakat kita yang hidup menderita dan sebagainya. Ada berbagai macam cara orang memberikan belas kasihan bergantung pada situasi dan kondisi.

G. Cinta Kasih Erotis
Cinta kasih erotis kerap kali dicampurbaurkan dengan pengalaman yang eksplosif berupa jatuh cinta, yaitu keruntuhan tiba-tiba tembok yang sampai waktu itu terdapat diantara dua orang yang asing satu sama lain. Tetapi seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu, pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakekatnya hanyalah sementara saja. Bilamana orang asing tadi telah menjadi seseorang yang diketahui secara intim, tidak ada lagi rintangan yang harus diatasi, tidak ada lagi kemesraan tiba-tiba yang harus diperjuangkan.
Disamping itu adapula cara mengatasi keterpisahan tersebut, dengan bercerita tentang kehidupan diri pribadi, tentang pengharapan-pengharapan, dan kecemasan-kecemasannya, menampakkan diri dengan segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minat yang sama terhadap dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi keterpisahan. Bahkan dengan memperlihatkan kemarahannya, kebenciannya, dan memperlihatkan kekurangannya menahan diri, semuanya dianggap bahwa telah dicapai intimitas. Hal ini dapat menerangkan adanya daya tarik perversi(busuk).
Keinginan seksual menuju kepada penyatuan diri, tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu belaka untuk meredakan ketegangan yang menyakitkan. Keinginan seksual dapat distimuli, dirangsang oleh ketakutan karena sepi, oleh keinginan untuk menaklukan atau ditaklukan oleh keangkuhan, oleh keinginan menyakiti, bahkan oleh keinginan untuk memusnahkan. Semua itu dapat memberikan stimulasi yang sama beratnya dengan cinta kasih. Rupa-rupanya keinginan seksual dengan mudah dicampuri atau distimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalam, sedangkan cinta kasih merupakan salah satu diantaranya. Oleh karena bagi kebanyakan orang, keinginan seksual senantiasa disamakan dengan gagasan cinta kasih, mereka mudah terbawa oleh kesimpulan yang salah bahwa mereka saling menginginkan secara fisis.
Cinta kasih erotis apabila ia benar-benar cinta kasih maka mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya, dan menerima pribadi orang lain dengan jiwanya sedalam-dalamnya.
Mencintai dan mengasihi seseorang bukan hanya merupakan perasaan yang kuat, melainkan merupakan suatu putusan, suatu penilaian, suatu perjanjian. Apabila cinta kasih hanya merupakan perasaan saja, tidak ada dasarnya untuk saling berjanji akan mencintai dan mengasihi untuk selama-lamanya, perasaan tersebut dapat timbul dan tenggelam.
Dengan ini, maka baik pandangan  bahwa cinta erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain daripada perbuatan kemauan, kedua-duanya benar, atau lebih tepat dikatakan bahwa tidak terdapat pada yang satu juga tidak pada yang lain.


Manusia dan Kebudayaan

Rangkuman Bab 2 Manusia dan Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan memiliki sebuat keterkaitan yang sangat kuat yang mana terdapat berbagai macam keunikan pada setiap individunya. Dalam rangkuman ini akan kita bahas tentang pengertian dasar manusia dan kebudayaan.

A. Manusia
Manusia dapat dijelaskan dengan ilmu eksakta dan ilmu sosial. Ilmu eksakta dalam ilmu biologi manusia merupakan mahluk hidup yang tergolong dalam golongan mahluk hidup mamalia, dalam ilmu kimia  manusia merupakan kumpulan partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki manusia, dalam ilmu fisika manusia merupakan kumpulan berbagai macam sistem fisik dan kumpulan dari energi. Ilmu sosial dalam ilmu sosiologi manusia merupakan mahluk yang tidak dapat berdiri sendiri, dalam ilmu filsafat manusia merupakan mahluk yang berbudaya, dalam ilmu ekonomi manusia merupakan mahluk yang ingin memperoleh keuntungan, menurut ilmu politik manusia merupakan mahluk yang ingin memiliki sebuah kekuasaan, serta lain sebagainya.
Dua pandangan yang menjadi acuan penjelasan unsur-unsur yang membangun manusia
1)    Manusia terdiri dari empat unsur yang saling terkait, yaitu
a.    Jasad, merupakan badan kasar manusia yang nampak, dapat diraba dan difoto, serta menempati ruang dan waktu
b.    Hayat, merupakan unsur hidup yang ditandai dengan gerak
c.    Ruh, merupakan bimbingan dan pimpinan Tuhan yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
d.    Nafs, dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri

2)    Manusia sebagai suatu kepribadian mengandung 3 unsur, yaitu
a.    Id, merupakan struktur kepribadian yang primitive dan tidak nampak. Id merupakan libido murni atau energy psikis yang menunjukkan ciri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran.
b.    Ego, merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, sering disebut sebagai kepribadian eksekutif, karena peranannya dalam menghubungkan Id kedalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain. Ego berkembang antara usia satu hingga dua tahun, yang mana pada saat anak berhubungan dengan dunia luar.
c.    Superego, merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang memiliki otoritas di dalam lingkungan luar diri. Superego berkembang secara internal yang berlawanan dari Id dan Ego, yang mana superego dapat menghasilkan sebuah kontrol diri melalui sistem imbalan dan hukuman yang terinternalisasi.

B. Hakekat Manusia
a.    Mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa  sebagai satu kesatuan yang utuh.
Manusia memiliki tubuh yang dapat dilihat, diraba, dirasa dan wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Manusia memiliki jiwa yang tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba dan wujudnya abstrak tetapi abadi.
b.    Mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan mahluk lainnya.
Manusia sempurna karena memiliki akal, perasaan dan kehendak sehingga memiliki adab dan  budaya. Akal manusia mampu menciptakan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta dapat menciptakan nilai baik dan buruk yang mana manusia akan mempertimbangkan dan menilai apa yang akan ia lakukan saat bertindak. Manusia memiliki perasaan yang terbagi jadi dua macam, yaitu perasaan inderawi dan rohani. Perasaan inderawi adalah rangsangan jasmani, sedangkan perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia misalnya :
1)    Perasaan Intelektual, yaitu perasaan yang berkenaan dengan pengetahuan. Disaat manusia memperoleh pengetahuan akan merasa senang dan puas, bila tidak maka sebaliknya.
2)    Perasaan estetis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan keindahan. Disaat manusia merasa atau mendengar atau melihat sesuatu yang indah akan senang, apabila tidak maka sebaliknya.
3)    Perasaan etis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kebaikan, Disaat manusia sesuatu itu baik akan merasa senang, apabila tidak maka sebaliknya.
4)    Perasaan diri, yaitu perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain. Disaat manusia memiliki kelebihan dari yang lain maka akan merasa lebih tinggi, angkuh, dan sombong, apabila tidak maka sebaliknya.
5)    Perasaan sosial, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kelompok atau hidup bermasyarakat. Disaat manusia berhasil maka akan ikut senang, apabila tidak maka sebaliknya.
6)    Perasaan religious, yaitu perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan. Disaat manusia merasa tentram jiwanya pada saat manusia bertawakal kepada Tuhan dengan mematuhi segala perintah-Nya dan memenuhi larangan-Nya.
c.    Mahluk biokultural, yaitu mahluk hayati yang budayawi.
Manusia merupakan mahluk yang saling berinteraksi secara hayati dan budayawi. Sebagai mahluk, manusia dapat dipelajari dari segi anatomi, fisiologi, dan hal biologis lainnya. Sebagai mahluk budayawi manusi adapat dipelajari dari segi kemasyarakatan, kekerabatan, kesenian, ekonomi, perkakas, bahasa dan hal sosial lainnya.
d.    Mahluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan, yang mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
Seorang filsuf Denmark bernama Soren Kienkegaard mempelopori ajaran “eksistensialisme” yang memandang manusia dalam konteks kehidupan konkrit adalah manusia alamiah yang terikat dengan lingkungannya, memiliki sifat-sifat alamiah dan tunduk pada hokum alamiah pula.
Hidup manusia terdapat tiga taraf, yaitu estetis, etis dan religius. Dengan estetis, manusia dapat memahami atau mengagumi suatu karya yang indah. Dengan etis, manusia mampu membentuk suatu keputusan bebas yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan religius, manusia menghayati pertemuannya dengan tuhan.

C. Kepribadian Bangsa Timur
Francis L.K. Hsu, sarjana Amerika keturunan Tiongkok yang mengkombinasikan dirinya di dalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu filsafat dan kesusastraan cina klasik. Karya tulisnya berjudul Psychological Homoestatis Cina Klasik. Majalah American Anthropologist, jilid 73 tahun 1971, halaman 23-24.
Ilmu psikologi yang memang berasal dan timbul dalam masyarakat Barat, dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting, biasanya menganilisis jiwa manusia dengan terlampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan analisis tersendiri. Sampai sekarang ilmu psikologi di negara-negara Barat itu mengembangkan konsep-konsep dan teori-teori mengenaik aneka warna isi jiwa, serta metode-metode dan alat-alat untuk menganalisis dan mengukur secara detail variasi isi jiwa setiap individu.
            Hsu telah membuat konsepsi bahwa dalam jiwa manusia sebagai mahluk sosial budaya itu mengandung delapan daerah seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris sekitar diri sendiri.
Lingkaran nomor 7 dan 6 terletak pada pusat dan sub-pusat yang merupakan daerah taksadar dan subsadar. Lingkaran itu berada pada didaerah pedalaman suatu alam jiwa individu manusia dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah masuk kedalam, sehingga tidak disadari lagi oleh individu yang bersangkutan.
Lingkarang nomor 5 disebut kesadaran yang tak dinyatakan. Lingkaran itu teridiri dari pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang disadari oleh si individu yang bersangkutan, tetapi hanya disimpan dalam alam jiwanya sendiri dan tak dinyatakan kepada siapapun juga dalam lingkungannya. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh :
a.    Ia takut salah dan takut dimarahi orang apabila iya menyatakan, atau karena ia punya maksud jahat
b.    Ia sungkan menyatakannya, atau karena belum yakin bahwa ia akan mendapatkan respons dan pengertian yang baik dari sesamanya, atau takut bahwa walaupun diberi respons, respons itu sebenarnya tak diberikan dengan hati yang ikhlas atau juga karena ia takut ditolal mentah-mentah.
c.    Ia malu karena takut ditertawakan, atau karena ada perasaan bersalah yang mendalam.
d.    Ia tidak bias menemukan kata-kata atau perumusan yang cocok untuk menyatakan gagasan yang bersangkutan tadi kepada sesamanya.
Lingkaran nomor 4 disebut kesadaran yang dinyatakan. Lingkaran ini ada di dalam alam jiwa manusia mengandung pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh si individu kepada sesamanya.
Lingkaran nomor 3 disebut lingkaran hubungan karib, mengandung konsepsi tentang orang-orang, bintang-bintang, atau benda benda yang oleh si individu diajak bergaul secara mesra dan karib, yang bias dipakai sebagai tempat berlindung dan mencurahkan isi hati apabila ia sedang terkena tekanan batin atau dikejar-kejar oleh kesedihan dan oleh masalah-masalah hidup yang menyulitkan.
Lingkaran nomor 2 disebut lingkaran hubungan berguna, tidak lagi ditandai dengan sikap saying dan mesra, melainkan ditentukan oleh fungsi kegunaan dari orang, bintang, atau benda-benda bagi dirinya sendiri.
Lingkaran nomor 1 disebut lingkaran hubungan jauh, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, alat-alat, benda-benda, pengetahuan dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakat sendiri, tetapi yang jarang sekali mempunyai arti dan pengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
Lingkaran nomor 0 disebut lingkaran dunia luar, terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan yang hamper sama dengan pikiran yang terletak di luar masyarakat dan negara Indonesia, dan ditanggapi oleh individu bersangkutan dengan sikap tidak peduli.

D. Pengertian Budaya
Menurut Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan oeh adanya kebudayaan yang dimiliki masyarakat tersebut. Herkovits memandang kebudayaan sebagai suatu yang superorganic, karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke generasi yang selalu hidup terus.
Menurut E.B. Tylor mengemukakan bahwa kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapati oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Sutan Takdir Alisyahbana mengemukakan bahwa kebudayaan antara lain berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari  hasil budi pekertinya.
Menurut Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan antara lain berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya
Menurut A.L. Krober dan C. Kluckhon mengemukakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya.
Menurut C.A. Van Peursen mengemukakan bahwa kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang, dan kehidupan setiap kelompok orang-orang, berlainan dengan hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam, melainkan selalu mengubah alam.


E.  Unsur-Unsur Kebudayaan
Menurut Melville J. Herkovits unsur kebudayaan itu ada empat, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuatan politik.
Menurut Bronislaw Malinowski unsur unsur tersebut terdiri dari sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga ataupun petugas pendidikan, dan organisasi kekuatan.
Menurut C. Kluckhohn dalam karyanya yang berjudul Universal Categories of Culture mengemukakan bahwa ada tujuh unsur budaya universal, yaitu sistem religi, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian.

F.  Wujud Kebudayaan
Wujud kebudayaan dibagi jadi tiga wujud yaitu :
1)    Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia :
Wujud ini disebut sebagai sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup.
2)    Kompleks aktivitas :
Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain dari detik ke detik, hari ke hari dan tahun ke tahun, selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
3)    Wujud sebagai benda :
Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagi hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya.

G. Orientasi Nilai Budaya
Menurut C.Klockhohn dalam karyanya Variation in Value Orientation, sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :
1)    Hakekat hidup manusia
Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara     ekstem, ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik, “mengisi hidup”
2)    Hakekat karya manusia
Setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi


3)    Hakekat waktu manusia
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda, ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, adapula yang berpandangan untuk masa kini atau masa yang akan datang.
4)    Hakekat alam manusia
Ada kebudayaan yang menganggap bahwa manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan bahwa manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.
5)    Hakekat hubungan manusia
Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal(sesamanya) maupun secara vertikal(orientasi kepada tokoh-tokoh). Ada pula yang berpandangan individualistis.

H. Perubahan Kebudayaan
Masyarakat dan kebudayaan dimanapun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitif yang terisolasi dari berbagai hubungan dengan masyarakat lainnya. Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak.
Terjadinya gerak dan perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :
1)    Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
2)    Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain cenderung untuk berubah lebih cepat.
Proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan terjadi dalam masa-masa silam. Biasanya suatu masyarakat hidup bertetangga dengan masyarakat-masyarakat lainnya dan antara mereka terjadi hubungan-hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan, pemerintahan dan sebagainya. Pada saat itulah unsur-unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar-besaran, dahulu kala mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut. Berikut beberapa masalah yang menyangkut proses tadi adalah :
a.    Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang mudah diterima.
b.    Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima.
c.    Individu-individu manakah yang cepat menerima unsur-unsur yang baru.
d.    Ketegangan-ketegangan apakah yang akan timbul sebagai akibat akulturasi tersebut.

1.    Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima misalnya :
a.    Unsur kebudayaan kebendaan seperti peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya.
b.    Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar, misalnya radio, komputer, telepon yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat komunikasi.
c.    Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi dengan biaya yang murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk melengkapi pabrik-pabrik penggilingan.
2.    Unsur-unsur kebudayaan  yang sulit diterima oleh suatu masyarakat misalnya :
a.    Unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lainnya.
b.    Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah persoalan makanan pokok suatu masyarakat.
3.    Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua dianggap sebagai orang-orang kolot yang sulit menerima unsur baru. Hal itu disebabkan karena norma-norma yang tradisional sudah mendarah daging dan menjiawi sehingga sulit sekali untuk mengubah norma-norma yang sudah demikian meresapnya kedalam jiwa generasi tua tersebut.
4.    Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi selalu ada kelompok-kelompok individu yang sulit sekali atau bahkan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan masyarakat dianggap oleh golongan tersebut sebagai keadaan krisis yang membahayakan keutuhan masyarakat. Apabila mereka merupakan golongan yang kuat, maka mungkin proses perubahan dapat ditahannya. Sebaliknya bila mereka berada dipihak yang lemah, maka mereka hanya dapat menunjukkan sikap yang tidak puas.
Berikut beberapa factor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru :
1.    Terbatasnya masyarakat yang memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
2.    Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama, dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada, maka penerimaan unsur baru itu mengalami hambatan dan harus disensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan ajaran agama yang berlaku.
3.    Corak struktur sosial  suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru. Misalnya sistem otoriter akan sulit menerima unsur kebudayaan baru.
4.    Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
5.    Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas, dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan.

I.    Kaitan Manusia dan Kebudayaan
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
1.    Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Dengan eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.
2.    Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan  dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
3.    Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusi. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.

Review Paten dan Hak Cipta

      Dalam Undang-undang Hak Cipta tertulis bahwa Undang-Undang ini bertujuan untuk melindungi dan memberikan jaminan kepastian hukum bagi...