Senin, 02 Oktober 2017

Manusia dan Kebudayaan

Rangkuman Bab 2 Manusia dan Kebudayaan

Manusia dan kebudayaan memiliki sebuat keterkaitan yang sangat kuat yang mana terdapat berbagai macam keunikan pada setiap individunya. Dalam rangkuman ini akan kita bahas tentang pengertian dasar manusia dan kebudayaan.

A. Manusia
Manusia dapat dijelaskan dengan ilmu eksakta dan ilmu sosial. Ilmu eksakta dalam ilmu biologi manusia merupakan mahluk hidup yang tergolong dalam golongan mahluk hidup mamalia, dalam ilmu kimia  manusia merupakan kumpulan partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki manusia, dalam ilmu fisika manusia merupakan kumpulan berbagai macam sistem fisik dan kumpulan dari energi. Ilmu sosial dalam ilmu sosiologi manusia merupakan mahluk yang tidak dapat berdiri sendiri, dalam ilmu filsafat manusia merupakan mahluk yang berbudaya, dalam ilmu ekonomi manusia merupakan mahluk yang ingin memperoleh keuntungan, menurut ilmu politik manusia merupakan mahluk yang ingin memiliki sebuah kekuasaan, serta lain sebagainya.
Dua pandangan yang menjadi acuan penjelasan unsur-unsur yang membangun manusia
1)    Manusia terdiri dari empat unsur yang saling terkait, yaitu
a.    Jasad, merupakan badan kasar manusia yang nampak, dapat diraba dan difoto, serta menempati ruang dan waktu
b.    Hayat, merupakan unsur hidup yang ditandai dengan gerak
c.    Ruh, merupakan bimbingan dan pimpinan Tuhan yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran, suatu kemampuan mencipta yang bersifat konseptual yang menjadi pusat lahirnya kebudayaan.
d.    Nafs, dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri

2)    Manusia sebagai suatu kepribadian mengandung 3 unsur, yaitu
a.    Id, merupakan struktur kepribadian yang primitive dan tidak nampak. Id merupakan libido murni atau energy psikis yang menunjukkan ciri alami yang irrasional dan terkait dengan sex, yang secara instingtual menentukan proses-proses ketidaksadaran.
b.    Ego, merupakan bagian atau struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari Id, sering disebut sebagai kepribadian eksekutif, karena peranannya dalam menghubungkan Id kedalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain. Ego berkembang antara usia satu hingga dua tahun, yang mana pada saat anak berhubungan dengan dunia luar.
c.    Superego, merupakan kesatuan standar-standar moral yang diterima oleh ego dari sejumlah agen yang memiliki otoritas di dalam lingkungan luar diri. Superego berkembang secara internal yang berlawanan dari Id dan Ego, yang mana superego dapat menghasilkan sebuah kontrol diri melalui sistem imbalan dan hukuman yang terinternalisasi.

B. Hakekat Manusia
a.    Mahluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa  sebagai satu kesatuan yang utuh.
Manusia memiliki tubuh yang dapat dilihat, diraba, dirasa dan wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Manusia memiliki jiwa yang tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba dan wujudnya abstrak tetapi abadi.
b.    Mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan mahluk lainnya.
Manusia sempurna karena memiliki akal, perasaan dan kehendak sehingga memiliki adab dan  budaya. Akal manusia mampu menciptakan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta dapat menciptakan nilai baik dan buruk yang mana manusia akan mempertimbangkan dan menilai apa yang akan ia lakukan saat bertindak. Manusia memiliki perasaan yang terbagi jadi dua macam, yaitu perasaan inderawi dan rohani. Perasaan inderawi adalah rangsangan jasmani, sedangkan perasaan rohani adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia misalnya :
1)    Perasaan Intelektual, yaitu perasaan yang berkenaan dengan pengetahuan. Disaat manusia memperoleh pengetahuan akan merasa senang dan puas, bila tidak maka sebaliknya.
2)    Perasaan estetis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan keindahan. Disaat manusia merasa atau mendengar atau melihat sesuatu yang indah akan senang, apabila tidak maka sebaliknya.
3)    Perasaan etis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kebaikan, Disaat manusia sesuatu itu baik akan merasa senang, apabila tidak maka sebaliknya.
4)    Perasaan diri, yaitu perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain. Disaat manusia memiliki kelebihan dari yang lain maka akan merasa lebih tinggi, angkuh, dan sombong, apabila tidak maka sebaliknya.
5)    Perasaan sosial, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kelompok atau hidup bermasyarakat. Disaat manusia berhasil maka akan ikut senang, apabila tidak maka sebaliknya.
6)    Perasaan religious, yaitu perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan. Disaat manusia merasa tentram jiwanya pada saat manusia bertawakal kepada Tuhan dengan mematuhi segala perintah-Nya dan memenuhi larangan-Nya.
c.    Mahluk biokultural, yaitu mahluk hayati yang budayawi.
Manusia merupakan mahluk yang saling berinteraksi secara hayati dan budayawi. Sebagai mahluk, manusia dapat dipelajari dari segi anatomi, fisiologi, dan hal biologis lainnya. Sebagai mahluk budayawi manusi adapat dipelajari dari segi kemasyarakatan, kekerabatan, kesenian, ekonomi, perkakas, bahasa dan hal sosial lainnya.
d.    Mahluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan, yang mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.
Seorang filsuf Denmark bernama Soren Kienkegaard mempelopori ajaran “eksistensialisme” yang memandang manusia dalam konteks kehidupan konkrit adalah manusia alamiah yang terikat dengan lingkungannya, memiliki sifat-sifat alamiah dan tunduk pada hokum alamiah pula.
Hidup manusia terdapat tiga taraf, yaitu estetis, etis dan religius. Dengan estetis, manusia dapat memahami atau mengagumi suatu karya yang indah. Dengan etis, manusia mampu membentuk suatu keputusan bebas yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan religius, manusia menghayati pertemuannya dengan tuhan.

C. Kepribadian Bangsa Timur
Francis L.K. Hsu, sarjana Amerika keturunan Tiongkok yang mengkombinasikan dirinya di dalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu filsafat dan kesusastraan cina klasik. Karya tulisnya berjudul Psychological Homoestatis Cina Klasik. Majalah American Anthropologist, jilid 73 tahun 1971, halaman 23-24.
Ilmu psikologi yang memang berasal dan timbul dalam masyarakat Barat, dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting, biasanya menganilisis jiwa manusia dengan terlampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan analisis tersendiri. Sampai sekarang ilmu psikologi di negara-negara Barat itu mengembangkan konsep-konsep dan teori-teori mengenaik aneka warna isi jiwa, serta metode-metode dan alat-alat untuk menganalisis dan mengukur secara detail variasi isi jiwa setiap individu.
            Hsu telah membuat konsepsi bahwa dalam jiwa manusia sebagai mahluk sosial budaya itu mengandung delapan daerah seolah-olah seperti lingkaran-lingkaran konsentris sekitar diri sendiri.
Lingkaran nomor 7 dan 6 terletak pada pusat dan sub-pusat yang merupakan daerah taksadar dan subsadar. Lingkaran itu berada pada didaerah pedalaman suatu alam jiwa individu manusia dan terdiri dari bahan pikiran dan gagasan yang telah masuk kedalam, sehingga tidak disadari lagi oleh individu yang bersangkutan.
Lingkarang nomor 5 disebut kesadaran yang tak dinyatakan. Lingkaran itu teridiri dari pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang disadari oleh si individu yang bersangkutan, tetapi hanya disimpan dalam alam jiwanya sendiri dan tak dinyatakan kepada siapapun juga dalam lingkungannya. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh :
a.    Ia takut salah dan takut dimarahi orang apabila iya menyatakan, atau karena ia punya maksud jahat
b.    Ia sungkan menyatakannya, atau karena belum yakin bahwa ia akan mendapatkan respons dan pengertian yang baik dari sesamanya, atau takut bahwa walaupun diberi respons, respons itu sebenarnya tak diberikan dengan hati yang ikhlas atau juga karena ia takut ditolal mentah-mentah.
c.    Ia malu karena takut ditertawakan, atau karena ada perasaan bersalah yang mendalam.
d.    Ia tidak bias menemukan kata-kata atau perumusan yang cocok untuk menyatakan gagasan yang bersangkutan tadi kepada sesamanya.
Lingkaran nomor 4 disebut kesadaran yang dinyatakan. Lingkaran ini ada di dalam alam jiwa manusia mengandung pikiran-pikiran, gagasan-gagasan, dan perasaan-perasaan yang dapat dinyatakan secara terbuka oleh si individu kepada sesamanya.
Lingkaran nomor 3 disebut lingkaran hubungan karib, mengandung konsepsi tentang orang-orang, bintang-bintang, atau benda benda yang oleh si individu diajak bergaul secara mesra dan karib, yang bias dipakai sebagai tempat berlindung dan mencurahkan isi hati apabila ia sedang terkena tekanan batin atau dikejar-kejar oleh kesedihan dan oleh masalah-masalah hidup yang menyulitkan.
Lingkaran nomor 2 disebut lingkaran hubungan berguna, tidak lagi ditandai dengan sikap saying dan mesra, melainkan ditentukan oleh fungsi kegunaan dari orang, bintang, atau benda-benda bagi dirinya sendiri.
Lingkaran nomor 1 disebut lingkaran hubungan jauh, terdiri dari pikiran dan sikap dalam alam jiwa manusia tentang manusia, alat-alat, benda-benda, pengetahuan dan adat yang ada dalam kebudayaan dan masyarakat sendiri, tetapi yang jarang sekali mempunyai arti dan pengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari.
Lingkaran nomor 0 disebut lingkaran dunia luar, terdiri dari pikiran-pikiran dan anggapan-anggapan yang hamper sama dengan pikiran yang terletak di luar masyarakat dan negara Indonesia, dan ditanggapi oleh individu bersangkutan dengan sikap tidak peduli.

D. Pengertian Budaya
Menurut Melville J. Herkovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa Cultural Determinism berarti segala sesuatu yang terdapat di dalam masyarakat ditentukan oeh adanya kebudayaan yang dimiliki masyarakat tersebut. Herkovits memandang kebudayaan sebagai suatu yang superorganic, karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke generasi yang selalu hidup terus.
Menurut E.B. Tylor mengemukakan bahwa kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapati oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Sutan Takdir Alisyahbana mengemukakan bahwa kebudayaan antara lain berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari  hasil budi pekertinya.
Menurut Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan antara lain berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya
Menurut A.L. Krober dan C. Kluckhon mengemukakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya.
Menurut C.A. Van Peursen mengemukakan bahwa kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang, dan kehidupan setiap kelompok orang-orang, berlainan dengan hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam, melainkan selalu mengubah alam.


E.  Unsur-Unsur Kebudayaan
Menurut Melville J. Herkovits unsur kebudayaan itu ada empat, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuatan politik.
Menurut Bronislaw Malinowski unsur unsur tersebut terdiri dari sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga ataupun petugas pendidikan, dan organisasi kekuatan.
Menurut C. Kluckhohn dalam karyanya yang berjudul Universal Categories of Culture mengemukakan bahwa ada tujuh unsur budaya universal, yaitu sistem religi, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, dan kesenian.

F.  Wujud Kebudayaan
Wujud kebudayaan dibagi jadi tiga wujud yaitu :
1)    Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia :
Wujud ini disebut sebagai sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup.
2)    Kompleks aktivitas :
Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain dari detik ke detik, hari ke hari dan tahun ke tahun, selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
3)    Wujud sebagai benda :
Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagi hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya.

G. Orientasi Nilai Budaya
Menurut C.Klockhohn dalam karyanya Variation in Value Orientation, sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :
1)    Hakekat hidup manusia
Hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara     ekstem, ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik, “mengisi hidup”
2)    Hakekat karya manusia
Setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi


3)    Hakekat waktu manusia
Hakekat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda, ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, adapula yang berpandangan untuk masa kini atau masa yang akan datang.
4)    Hakekat alam manusia
Ada kebudayaan yang menganggap bahwa manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan bahwa manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.
5)    Hakekat hubungan manusia
Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal(sesamanya) maupun secara vertikal(orientasi kepada tokoh-tokoh). Ada pula yang berpandangan individualistis.

H. Perubahan Kebudayaan
Masyarakat dan kebudayaan dimanapun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitif yang terisolasi dari berbagai hubungan dengan masyarakat lainnya. Tidak ada kebudayaan yang statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak.
Terjadinya gerak dan perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :
1)    Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
2)    Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain cenderung untuk berubah lebih cepat.
Proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan terjadi dalam masa-masa silam. Biasanya suatu masyarakat hidup bertetangga dengan masyarakat-masyarakat lainnya dan antara mereka terjadi hubungan-hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan, pemerintahan dan sebagainya. Pada saat itulah unsur-unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar-besaran, dahulu kala mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut. Berikut beberapa masalah yang menyangkut proses tadi adalah :
a.    Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang mudah diterima.
b.    Unsur-unsur kebudayaan asing manakah yang sulit diterima.
c.    Individu-individu manakah yang cepat menerima unsur-unsur yang baru.
d.    Ketegangan-ketegangan apakah yang akan timbul sebagai akibat akulturasi tersebut.

1.    Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima misalnya :
a.    Unsur kebudayaan kebendaan seperti peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya.
b.    Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar, misalnya radio, komputer, telepon yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat komunikasi.
c.    Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi dengan biaya yang murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk melengkapi pabrik-pabrik penggilingan.
2.    Unsur-unsur kebudayaan  yang sulit diterima oleh suatu masyarakat misalnya :
a.    Unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lainnya.
b.    Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah persoalan makanan pokok suatu masyarakat.
3.    Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua dianggap sebagai orang-orang kolot yang sulit menerima unsur baru. Hal itu disebabkan karena norma-norma yang tradisional sudah mendarah daging dan menjiawi sehingga sulit sekali untuk mengubah norma-norma yang sudah demikian meresapnya kedalam jiwa generasi tua tersebut.
4.    Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi selalu ada kelompok-kelompok individu yang sulit sekali atau bahkan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan-perubahan masyarakat dianggap oleh golongan tersebut sebagai keadaan krisis yang membahayakan keutuhan masyarakat. Apabila mereka merupakan golongan yang kuat, maka mungkin proses perubahan dapat ditahannya. Sebaliknya bila mereka berada dipihak yang lemah, maka mereka hanya dapat menunjukkan sikap yang tidak puas.
Berikut beberapa factor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya suatu unsur kebudayaan baru :
1.    Terbatasnya masyarakat yang memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
2.    Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama, dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada, maka penerimaan unsur baru itu mengalami hambatan dan harus disensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan ajaran agama yang berlaku.
3.    Corak struktur sosial  suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru. Misalnya sistem otoriter akan sulit menerima unsur kebudayaan baru.
4.    Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru tersebut.
5.    Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas, dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan.

I.    Kaitan Manusia dan Kebudayaan
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
1.    Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Dengan eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.
2.    Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan  dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
3.    Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusi. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Paten dan Hak Cipta

      Dalam Undang-undang Hak Cipta tertulis bahwa Undang-Undang ini bertujuan untuk melindungi dan memberikan jaminan kepastian hukum bagi...