Senin, 02 Oktober 2017

Manusia dan Cinta Kasih

Rangkuman Bab 4 Manusia dan Cinta Kasih

A. Cinta Kasih
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia  karya W.J.S. Poerwadinata cinta adalah rasa sangat suka atau saying atau sangat kasih atau sangat tertarik hatinya kepada orang lain. Sedangkan kasih adalah perasaan saying atau cinta atau menaruh belas kasihan kepada orang lain.
Walaupun cinta kasih mengandung arti yang menunjukkan persamaan, tetapi terdapat perbedaan diantara keduanya. Cinta merupakan perasaan yang sangat dalam di dalam diri seseorang dan kasih merupakan perwujudan nyata dari cinta.
Menurut Erich Fromm dalam bukunya seni mencinta menyebutkan bahwa cinta itu terutama memberi, bukan menerima. Memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan, dan yang paling penting dalam memberi ialah hal-hal yang sifatnya manusiawi bukan materi.
Menurut Dr. Sarlito W. Sarwono berpendapat bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan. Yang dimaksud keterikatan ialah adanya perasaan yang memprioritaskan harus bersama dia, dan harus tetap memilih dia. Yang dimaksud keintiman ialah adanya kebiasaan yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Yang dimaksud dengan kemesraan ialah adanya rasa kangen disaat jauh atau lama tidak bertemu, mengucapkan ungkapan-ungkapan rasa sayang dan lainnya. Dr. Sarlito W. Sarwono mengungkapkan juga bahwa ketiga unsur tersebut tidak sama kuatnya. Terkadang ada yang keterikatannya sangat kuat, tetapi keintiman atau kemesraannya kurang.
Menurut Dr. Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya manajemen cinta menyebutkan bahwa cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih sayang. Cinta merupakan fitrah manusia yang sangat murni yang tak dapat dipisahkan dari kehidupannya.
Cinta tingkat tertinggi bagi ummat Islam adalah kepada Allah, Rasulullah dan berjihad dijalan Allah. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat. Cinta tingkat terendah adalah cinta yang lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal. Bagi orang Islam yang bertakwa sudah menjadi kewajiban bahwa cinta kepada Allah, pada Rasulullah dan berjihad dijalannya merupakan cinta yang tiada duanya.
Cinta tingkat menengah adalah suatu energi yang datang dari perasaan hati dan jiwa. Bermula dari perasaan lembut yang ditanamkan oleh Tuhan dalam hati dan jiwa seseorang yang mana akan menimbulkan adanya perasaaan kasih sayang dan cinta terhadap orang lain.

Cinta tingkat terendah adalah cinta yang paling keji, hina dan merusak rasa kemanusiaan, contohnya seperti berikut :
1.    Cinta kepada thagut. Thagut adalah setan, atau sesuatu yang disembah selain Tuhan. Dalam surat Al-Baqarah, Allah berfirman :
“dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”
2.    Cinta berdasarkan hawa nafsu
3.    Cinta yang lebih mengutamakan kecintaa kepada orang tua, anak istri/suami, perniagaan dan tempat tinggal
Hikmah dari cinta sangatlah besar, dan hanya orang yang telah diberi kefahaman dan kecerdasan oleh Allah sajalah yang mampu merenungkannya. Diantara hikmah tersebut ialah :
1.    Sesungguhnya cinta itu adalah merupakan ujian yang paling berat dan pahit dalam kehidupan manusia, karena setiap cinta akan mengalami berbagai macam rintangan. Apakah seseorang akan menempuh cintanya dengan cara yang terhormat dan mulia? Ataukah ia akan merihnya dengan cara yang rendah dan hina? Apakah ia akan berjual mahal dengan cintanya, ataukah biasa-biasa saja? Apakah ia benar-benar tertarik dengan kekasihnya, atau hanya sekedar main-main saja? Semuanya dapat diketahui setelah mendapatkan rintangan dalam perjalanannya.
2.    Bahwa fenomena cinta yang telah melekat di dalam jiwa manusia merupakan pendorong dan pembangkit yang paling besar di dalam melestarikan kehidupan lingkungan. Kalau bukan karena cinta, tentu manusia tidak akan pernah terdorong gairah hidupnya untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan.
3.    Bahwa fenomena cinta adalah factor utama di dalam kelanjutan hidup manusia, dalam kenal-mengenal antar mereka. Juga untuk saling memanfaatkan kemajuan bangsa. Ia merupakan modal utama di dalam mengenal berbagai macam ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalam keindahan alam, kehidupan dan kemanusiaan.
4.    Fenomena cinta, jika diperhatikan merupakan pengikat paling kuat di dalam hubungan antar anggota keluarga, kerukunan bermasyarakat, mengasihi sesama mahluk hidup, menegakkan keamanan, ketentraman, dan keselamatan di segala penjuru bumi. Cinta merupakan benih dari segala kasih dan sayang, dan segala bentuk persahabatan, dimanapun adanya.

B. Cinta Menurut Ajaran Agama
Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama. Padahal dalam kehidupan manusia masih mendambakan tegaknya cinta dalam kehidupan ini. Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk. Kadang-kadang seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang-kadang mencintai orang lain. Atau juga istri dan anaknya, hartanya, atau Allah dan Rasulullah. Berbagai bentuk cinta ini bisa kita dapatkan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Cinta diri
Cinta diri erat kaitannya dengan dorongan menjaga diri. Manusia senang untuk tetap hidup, mengembangkan potensi dirinya, dan mengaktualisasikan diri. Pun ia mencintai segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan pada dirinya. Sebaiknya ia membenci segala sesuatu yang menghalanginya untuk hidup, berkembang dan mengaktualisasikan dirinya sendiri. Ia juga membenci segala sesuatu yang mendatangkan rasa sakit, penyakit dan mara bahaya.
Diantara gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah kecintaannya terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua keinginannya dan memudahkan baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup.(QS. Al-‘Adiyat 100:8)
Diantara gejala lain yang menunjukkan kecintaan manusia pada dirinya sendiri ialah permohonannya yang terus menerus agar dikaruniai harta, kesehatan, dan berbagai kebaikan dan kenikmatan hidup lainnya. Dan apabila ia tertimpa bencana, keburukan, atau kemiskinan, ia merasa putus asa dan mengira ia tidak akan bisa memperoleh karunia lagi. (QS. Fushilat 41:49)
Cinta kepada diri sendiri yang terlalu berlebihan dan melewati batas sangatlah tidak baik. Sepatutnya cinta pada diri sendiri diimbangi dengan cinta kepada orang lain dan cinta kepada berbuat kebajikan.
Cinta kepada sesama manusia
Agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan dengan manusia lainnya, maka manusia harus membatasi cinta kepada dirinya sendiri dan egoismenya. Hendaknya menyeimbangkan cintanya dengan cinta dan kasih sayang pada orang lain, bekerja sama dengan orang lain dan membantu orang lain.
Al-Qur’an juga menyerukan kepada orang-orang yang beriman agar saling mencintai seperti cinta mereka pada diri mereka sendiri. Hal tersebut bermaksud agar kita tidak berlebihan dalam mencintai diri kita sendiri.
Cinta seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Sebab ialah yang bekerja dalam melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerjasam antara suami dan istri. Ia merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga : “dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir” (QS. Ar-Rum 30:21)
Cinta seksual merupakan hal yang penting karena untuk melahirkan keturunan demi kelangsungan jenis. Lewat dorongan inilah terbentuk keluarga. Dari keluarga terbentuk masyarakat dan bangsa. Dengan demikian bumi pun menjadi sangat ramai, berbagai bangsa-bangsa saling kenal mengenal, kebudayaan berkembang, dan ilmu pengetahuan dan perindustrian menjadi maju.

Cinta kebapakan
Mengingat bahwa antara ayah dan anak-anaknya tidak terjalin oleh ikatan-ikatan fisiologis seperti yang menghubungkan si ibu dengan anak-anaknya, maka para ahli ilmu jiwa modern berpendapat bahwa dorongan kebapakan bukanlah dorongan fisiologis seperti halnya dorongan keibuan, melainkan dorongan psikis. Dorongan ini nampak jelas dalam cinta bapak kepada anak-anaknya karena mereka sumber kesenangan dan kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggaan dan merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dan kehidupan dan tetap terkenangnya dia setelah meninggal dunia. Ini terlihat jelas dalam do’a nabi Zakaria as yang memohon kepada Allah semoga ia dikaruniai seorang anak yang akan mewarisinya dan keluarga Ya’qub :
“Ia berkata :  “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” (QS. Maryam 19:4-6)

Cinta kepada Allah
Puncak cinta manusia yang paling bening, jernih dan spiritual ialah cintanya keada Allah dan kerinduan kepada-Nya. Tidak hanya dalam shalat, pujian dan do’anya saja, tetapi juga dalam semua tindakan dan tingkah lakunya. Semua tingkah laku dan tindakannya kepada Allah mengharapkan penerimaan dan ridha-Nya :
“katakanlah : “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (QS Ali Imran 3:31)

Cinta kepada Rasul
Cinta kepada rasul yang diutus Allah sebagai rahmah bagi seluruh alam semesta, menduduki peringkat ke dua setelah cinta kepada Allah. Ini karena Rasul merupakan ideal sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya. Seorang mukmin yang benar-benar beriman sepenuh hati akan mencintai Rasulullah yang telah menanggung derita dakwah Islam, berjuang dengan penuh segala kesulitan sehingga Islam tersebar diseluruh penjuru dunia, dan membawa kemanusiaan dari kekelaman kesesatan menuju cahaya petunjuk

C. Kasih Sayang
Dalam kasih sayang sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Bila salah satu unsur kasih sayang hilang maka retaklah keutuhan rumah tangga tersebut. Kasih sayang dapat dirasakan oleh semua orang dan semua kalangan. Berikut perbedaan pemberian kasih sayang :
1.    Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat pasif.
2.    Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat aktif
3.    Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat pasif
4.    Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat aktif

D. Kemesraan
Kemesraan berasal dari kata mesra yang artinya perasaan simpati yang akrab. Kemesraan ialah hubungan yang akrab dan baik antara pria dengan wanita yang sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga. Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih sayang yang mendalam.
Filsuf Rusia, Salovjef dalam bukunya makna kasih menyebutkan bahwa “jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secar serius, ia terlempar ke luar dari cinta diri. Ia mulai hidup untuk orang lain”.
Yose Ortage Y Gasset dalam novelnya “On Love” menyebutkan bahwa “dikedalaman sanubarinya seseorang pencinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan obyek cintanya. Persatuan bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”.
Kemampuan mencinta memberi nilai hidup kita dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.
E.  Pemujaan
Pemujaan adalah manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang dapat diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya. Apa sebab itu terjadi adalah karena Tuhan mencipta alam semesta. Seperti dalam  surat Al-Furqon ayat 59-60 yang menyatakan, “Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa diantara keduanya dalam enam rangkaian masa, kemudian dia bertahta di atas singgasana-Nya. Dia maha pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya tentang soal-soal apa yang perlu diketahui”. Selanjutnya ayat 60 “Bila dikatakan kepada mereka, sujudlah kepada Tuhan yang maha pengasih”.
Tuhan adalah pencipta, namun Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintahnya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Dalam surat Al-Mu’minin ayat 98 dikatakan, “Dan aku berlindung kepada-Mu. Ya Tuhanku, dari kehadiran-Nya didekatku”. Karena itu jelaslah bagi kita semua, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian hidup manusia, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri. Dan penciptan semesta untuk manusia

F.  Belas Kasihan
Kata kasihan atau rahmah memiliki arti bersimpati kepada nasib atau keadaan yang diderita orang lain. Dalam suar Al-Qolam ayat 4, “maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT”. Perbuatan atau sifat menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk berbelas kasihan.

a.   Cara-cara menumpahkan belas kasihan
Dalam kehidupan banyak sekali yang harus kita kasihani dan banyak cara kita menumpahkan belas kasihan. Yang perlu kita kasihani yaitu : yatim piatu, orang-orang yang jompo yang tidak mempunyai ahli waris, pengemis yang benar-benar tidak mampu bekerja, orang sakit di rumah sakit, orang cacat, masyarakat kita yang hidup menderita dan sebagainya. Ada berbagai macam cara orang memberikan belas kasihan bergantung pada situasi dan kondisi.

G. Cinta Kasih Erotis
Cinta kasih erotis kerap kali dicampurbaurkan dengan pengalaman yang eksplosif berupa jatuh cinta, yaitu keruntuhan tiba-tiba tembok yang sampai waktu itu terdapat diantara dua orang yang asing satu sama lain. Tetapi seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu, pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakekatnya hanyalah sementara saja. Bilamana orang asing tadi telah menjadi seseorang yang diketahui secara intim, tidak ada lagi rintangan yang harus diatasi, tidak ada lagi kemesraan tiba-tiba yang harus diperjuangkan.
Disamping itu adapula cara mengatasi keterpisahan tersebut, dengan bercerita tentang kehidupan diri pribadi, tentang pengharapan-pengharapan, dan kecemasan-kecemasannya, menampakkan diri dengan segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minat yang sama terhadap dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi keterpisahan. Bahkan dengan memperlihatkan kemarahannya, kebenciannya, dan memperlihatkan kekurangannya menahan diri, semuanya dianggap bahwa telah dicapai intimitas. Hal ini dapat menerangkan adanya daya tarik perversi(busuk).
Keinginan seksual menuju kepada penyatuan diri, tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu belaka untuk meredakan ketegangan yang menyakitkan. Keinginan seksual dapat distimuli, dirangsang oleh ketakutan karena sepi, oleh keinginan untuk menaklukan atau ditaklukan oleh keangkuhan, oleh keinginan menyakiti, bahkan oleh keinginan untuk memusnahkan. Semua itu dapat memberikan stimulasi yang sama beratnya dengan cinta kasih. Rupa-rupanya keinginan seksual dengan mudah dicampuri atau distimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalam, sedangkan cinta kasih merupakan salah satu diantaranya. Oleh karena bagi kebanyakan orang, keinginan seksual senantiasa disamakan dengan gagasan cinta kasih, mereka mudah terbawa oleh kesimpulan yang salah bahwa mereka saling menginginkan secara fisis.
Cinta kasih erotis apabila ia benar-benar cinta kasih maka mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya, dan menerima pribadi orang lain dengan jiwanya sedalam-dalamnya.
Mencintai dan mengasihi seseorang bukan hanya merupakan perasaan yang kuat, melainkan merupakan suatu putusan, suatu penilaian, suatu perjanjian. Apabila cinta kasih hanya merupakan perasaan saja, tidak ada dasarnya untuk saling berjanji akan mencintai dan mengasihi untuk selama-lamanya, perasaan tersebut dapat timbul dan tenggelam.
Dengan ini, maka baik pandangan  bahwa cinta erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain daripada perbuatan kemauan, kedua-duanya benar, atau lebih tepat dikatakan bahwa tidak terdapat pada yang satu juga tidak pada yang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Paten dan Hak Cipta

      Dalam Undang-undang Hak Cipta tertulis bahwa Undang-Undang ini bertujuan untuk melindungi dan memberikan jaminan kepastian hukum bagi...