BAB 1
Penduduk Masyarakat dan
Kebudayaan
A.
Pengertian Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan Penduduk adalah suatu
perubahan populasi sewaktu-waktu, dan bisa dihitung sebagai perubahan dalam
jumlah individu dalam sebuah populasi memakai “per waktu unit” untuk pengukuran.
Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah
pada manusia, dan sering dipakai secara informal untuk sebutan demografia s
nilai pertumbuhan penduduk, dan dipakai untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk
dunia.
B.
Pertumbuhan
dan Perkembangan Kebudayaan Indonesia
Secara
garis besar kebudayaan Indonesia dapat kita klasifikasikan dalam dua kelompok
besar. Yaitu Kebudayaan Indonesia Klasik dan Kebudayaan Indonesia Modern. Para
ahli kebudayaan telah mengkaji dengan sangat cermat akan kebudayaan klasik ini.
Mereka memulai dengan pengkajian kebudayaan yang telah ditelurkan oleh
kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sebagai layaknya seorang pengkaji yang
obyektif, mereka mengkaji dengan tanpa melihat dimensi-dimensi yang ada dalam kerajaan
tersebut. Mereka mempelajari semua dimensi tanpa ada yang dikesampingkan.
Adapun dimensi yang sering ada adalah seperti agama, tarian, nyanyian, wayang
kulit, lukisan, patung, seni ukir, dan hasil cipta lainnya.
Seorang
pengamat memberikan argumennya tentang kebudayaan indonesia modern. Dia
mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia modern dimulai ketika bangsa Indonesia
merdeka. Bentuk dari deklarasi ini menjadikan bangsa Indonesia tidak dalam
kekangan dan tekanan. Dari sini bangsa Indonesia mampu menciptakan rasa dan
karsa yang lebih sempurna.
Kebudayaan
Indonesia yang multikultur seperti itu, ketika dikaji dari sisi dimensi waktu,
dapat dibagi pula pengertiannya :
1. Pertama, kebudayaan (Indonesia) adalah
kebudayaan yang sudah terbentuk. Definisi ini mengarah kepada pengertian bahwa
kebudayaan Indonesia adalah keseluruhan pengetahuan yang
tersosialisasi/internalisasi dari generasi-generasi sebelumnya, yang kemudian
digunakan oleh umumnya masyarakat Indonesia sebagai pedoman hidup. Jika
dilacak, kebudayaan ini terdokumentasi dalam artefak/atau teks. Melihat
kebudayaan dari sisi ini, kita akan mudah terjebak kepada dua hal. Pertama, apa
yang sudah ada itu diterima sebagai sesuatu yang sudah baik bahkan paripurna.
Ungkapan seperti kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang adiluhung, merupakan
contoh terbaiknya. Di sini, apa yang disebut kebudayaan adalah dokumen text
(Jawa termasuk sastra-sastra lisan) yang harus dijadikan pedoman kalau kita
tidak ingin kehilangan ke-jawa-annya. Ungkapan: “ora Jawa” atau “durung Jawa”
adalah ungkapan untuk menilai laku (orang Jawa) yang sudah bergeser dari text
tersebut.
2. Kedua, kebudayaan (Indonesia) adalah
kebudayaan yang sedang membentuk. Pada definisi kedua ini menjelaskan adanya
kesadaran bahwa sebetulnya, tidak pernah (baca: terlalu sedikit) ada masyarakat
manapun di dunia ini yang tidak bersentuhan dengan kebudayaan dan peradaban
lain, termasuk kebudayaan Indonesia atau kebudayaan Jawa. Hanya saja ada
pertanyaan serius untuk memilih definisi kedua ini, yaitu bagaimana lalu
kebudayaan kita berdiri tegak untuk mampu menyortir berbagai elemen kebudayaan
asing yang cenderung capitalism yang notabene, dalam batas-batas tertentu,
negative (baca: tidak cocok)? Pada saat yang sama, kebudayaan global yang
kapitalistik itu, telah masuk ke berbagai relung-relung kehidupan masyarakat
“tanpa” bisa dicegah. Kalau begitu, pertanyaannya ialah: membatasi, menolak,
atau mengambil alih nilai-nilai positif yang ditawarkan. Persoalan seperti ini
dulu sudah pernah menjadi perdebatan para ahli kebudayaan, sebagaimana yang
dilakukan oleh Armen Pane dkk versus Sutan Takdir Alisyahbana (Lihat pada buku
Polemik Kebudayaan), dan sampai sekarang pun sikap kita tidak jelas
juntrungnya.
3. Ketiga, adalah kebudayaan (Indonesia)
adalah kebudayaan yang direncanakan untuk dibentuk. Ini adalah definisi yang
futuristic, yang perlu hadir dan dihadirkan oleh warga bangsa yang menginginkan
Indonesia ke depan HARUS LEBIH BAIK. Inilah yang seharusnya menjadi focus
kajian serius bagi pemerhati Indonesia, wa bil khusus para mahasiswa dan
dosen-dosen ilmu budaya.
Kondisi sosial
budaya Indonesia saat ini adalah sebagai berikut :
1. Bahasa, sampai saat Indonesia masih
konsisten dalam bahasa yaitu bahasa Indonesia. Sedangkan bahasa-bahasa daerah
merupakan kekayaan plural yang dimiliki bangsa Indonesia sejak jaman nenek
moyang kita. Bahasa asing (Inggris) belum terlihat popular dalam penggunaan
sehari-hari, paling pada saat seminar, atau kegiatan ceramah formal diselingi
denga bahasa Inggris sekedar untuk menyampaikan kepada audien kalau penceramah
mengerti akan bahasa Inggris.
2. Sistem teknologi, perkembangan yang
sangat menyolok adalah teknologi informatika. Dengan perkembangan teknologi ini
tidak ada lagi batas waktu dan negara pada saat ini, apapun kejadiannya di satu
negara dapat langsung dilihat di negara lain melalui televisi, internet atau
sarana lain dalam bidang informatika.
3. Sistem mata pencarian hidup/ekonomi.
Kondisi pereko-nomian Indonesia saat ini masih dalam situasi krisis, yang
diakibatkan oleh tidak kuatnya fundamental ekonomi pada era orde baru. Kemajuan
perekonomian pada waktu itu hanya merupakan fatamorgana, karena adanya utang
jangka pendek dari investor asing yang menopang perekonomian Indonesia.
4. Organisasi Sosial. Bermunculannya
organisasi sosial yang berkedok pada agama (FPI, JI, MMI, Organisasi Aliran
Islam/Mahdi), Etnis (FBR, Laskar Melayu) dan Ras.
5. Sistem Pengetahuan. Dengan adanya LIPI
(Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) diharapkan perkembangan pengetahuan
Indonesia akan terus berkembang sejalan dengan era globalisasi.
6. Religi. Munculnya aliran-aliran lain
dari satu agama yang menurut pandangan umum bertentangan dengan agama aslinya.
Misalnya : aliran Ahmadiyah, aliran yang berkembang di Sulawesi Tengah (Mahdi),
NTB dan lain-lain.
7. Kesenian. Dominasi kesenian saat ini
adalah seni suara dan seni akting (film, sinetron). Seni tari yang dulu hampir
setiap hari dapat kita saksikan sekarang sudah mulai pudar, apalagi seni yang
berbau kedaerahan. Kejayaan kembali wayang kulit pada tahun 1995 – 1996 yang
dapat kita nikmati setiap malam minggu, sekarang sudah tidak ada lagi. Seni
lawak model Srimulat sudah tergeser dengan model Extravagansa. Untuk kesenian
nampaknya paling dinamis perkembangannya.
8. Sedang menghadapi suatu
pergeseran-pergeseran atau Shift budaya. Hal ini
mungkin dapat difahami mengingat derasnya arus globalisasi yang membawa
berbagai budaya baru serta ketidak mampuan kita dalam membendung serangan itu
dan mempertahankan budaya dasar kita.