Jumat, 03 November 2017

Manusia dan Keadilan

Rangkuman Bab 7 Manusia dan Keadilan

A.   Pengertian Keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrim yang terlalu banyak dan terlalu sedikit, kedua ujung tersebut menyangkut dua orang atau benda. Apabila kedua orang tersebut memiliki kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang akan menerima bagian yang sama, kalau ketetapan tersebut tidak sama maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidakadilan.
Menurut Plato keadilan itu diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri, dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
Menurut Socrates keadilan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Menurut Kong Hu Chu keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, ayah sebagai ayah, raja sebagai raja, dan masing masing telah melaksanakan kewajibannya.

B.   Keadilan Sosial
Disaat ada kata “keadilan sosial” maka kita akan teringat tentang Pancasila, yang mana sila kelima berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.  Dalam dokumen lahirnya Pancasila yang diusulkan Bung Karno tentang adanya prinsip kesejahteraan sebagai salah satu dasar negara.
Panitia ad-hoc MPRS 1966 memberikan perumusan sebagai berikut :
“Sila keadilan sosial mengandung prinsip bahwa setiap orang di Indonesia akan mendapatkan perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, ekonomi dan kebudayaan”.
Dalam TAP MPR RI No.II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila dicantumkan ketentuan sebagai berikut :
“Dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia”.
Keadilan dan ketidakadilan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia karena dalam hidup manusia akan menghadapi keadilan atau ketidakadilan setiap harinya. Oleh sebab itu keadilan dan ketidakadilan menimbulkan daya kreativitas manusia, banyak seni yang lahir dari imajinasi ketidakadilan, seperti drama, puisi, novel, musik, dan lainnya.

C.      Berbagai Macan Keadilan
A)     Keadilan Legal atau Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang  menurut sifat dasarnya paling cocok baginya.
Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat, serta keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat melakukan fungsinya secara baik menurut kemampuannya.
Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidakserasian. Misalnya, seorang petugas pertanian mencampuri urusan petugas perhutanan. Bila hal itu dilakukan maka akan terjadi kekacauan.
B)      Keadilan Distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (Justice is done when equals are treated equally).
C)      Keadilan Komulatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles  pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim akan menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dan ketertiban dalam masyarakat.

D.   Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada, yang mana kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Barang siapa berkata jujur serta bertindak jujur sesuai dengan kenyataan, artinya orang itu berbuat benar. Teguhlah pada kebenaran walaupun kejujuran dapat merugikanmu, serta jangan pula berdusta walaupun dustamu dapat menguntungkanmu.
Orang bodoh yang jujur lebih baik daripada orang pandai yang lancung. Barang siapa tidak dapat dipercaya tutur katanya, atau tidak menepati janji dan kesanggupannya, teramasuk golongan orang munafik sehingga tidak menerima belas kasihan Tuhan. Pada hakekatnya kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.

E.    Kecurangan
Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran, dan sama dengan licik, meskipun tidak serupa, sudah tentu kecurangan adalah sebagai lawan jujur.
Kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan isi hati nuraninya. Atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan berusaha. Sudah tentu keuntungan yang diperoleh dengan tidak baik.
Kecurangan dapat menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya dan senang apabila masyarakat disekelilingnya hidup menderita.

F.    Pemulihan Nama Baik
Nama baik merupakan tujuan utama hidup manusia. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi masyarakat disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
Penjagaan terhadap nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan, atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku perbuatannya. Yang dimaksud tingkah laku dan perbuatan itu adalah cara berbahasa, bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.
Untuk memulihkan nama baik, manusia harus bertaubat atau minta maaf. Taubat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat budi darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepada sesama yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang, tanpa pamrih, takwa kepada Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipujuk.

G.   Pembalasan
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain, reaksi tersebut dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa. Misalnya seseorang memberikan makanan kepada orang lain, lalu orang lain tersebut akan membalasnya dengan memberikan minuman, dan hal tersebut merupakan pembalasan.
Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang baik akan mendapat balasan yang baik pula. Maka sebaliknya apabila pergaulan yang buruk akan mendapat balasan yang buruk pula.
Pada dasarnya, manusia adalah mahluk bermoral dan mahluk bersosial. Dalam bergaul, manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau merusak hak dan kewajiban manusia lain.

Oleh karena itu setiap manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau dirusak, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.

Manusia dan Penderitaan

Rangkuman Bab 6 Manusia dan Penderitaan

A.   Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita yang artinya menanggung atau menahan sesuatu yang tidak menyenangkan, penderitaan dapat berupa lahir atau batin ataupun lahir batin. Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia.
Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan “resiko” hidup. Tuhan memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bermakna agar manusia sadar untuk tidak berpaling dari-Nya. Biasanya manusia diberi tanda sebagai peringatan yang dapat berupa mimpi atau berasal dari realita.

B.   Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan jasmani ataupun rohani, akibat dari siksaan terhadap seseorang dapat menimbulkan penderitaan. Siksaan yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari banyak terjadi dan banyak dibaca diberbagai media massa.
Siksaan bersifat psikis adalah sebagai berikut :
a)      Kebimbangan, hal ini dialami oleh seseorang apabila ia tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil. Kebimbangan ini juga dapat mengakibatkan seseorang merasa tertekan dan merasa terbebani pikirannya dan menjadi sebuah siksaan bagi orang tersebut. Tetapi apabila seseorang yang kuat dalam berpikir ia akan cepat mengambil keputusan, sehingga kebimbangan akan dapat cepat teratasi.
b)      Kesepian, hal ini dialami oleh seseorang apabila ia merasa sepi dalam dirinya sendiri atau jiwanya walaupun ia dalam lingkungan orang ramai. Kesepian dengan keadaan sepi tidak dapat disamakan karena seseorang yang berada didalam keadaan sepi belum tentu hati mereka sepi seperti seorang ahli ibadah yang sedang beribadah dalam keadaan sepi.
c)       Ketakutan, hal ini dialami karena berbagai macam sumber yang mana setiap orang memiliki ketakutan terhadap sesuatu atau terhadap hal yang tertentu. Perasaan ini tidak mengenal lingkungan ramai atau sepi, perasaan ini dapat terjadi walaupun keadaan lingkungan sekitar sedang ramai dan saat keadaan sepi tidak akan selalu merasakan ketakutan. Rasa ketakutan yang berlebihan dapat disebutkan sebagai phobia yang sifatnya psikis.

C.    Kekalutan Mental
Kekalutan mental merupakan penderitaan batin, atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga bertingkah kurang wajar.


Gejala awal bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah sebagai berikut :
1.       Nampak pada badan yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung.
2.       Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah sebagai berikut :
1.       Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rohaninya.
2.       Usaha mempertahankan diri dengan cara negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara bertahan dirinya salah, pada orang yang tidak menderita gangguan kejiwaan bila menghadapi persoalan, justru lekas memecahkan masalah tersebut, sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi bukan soal melarikan diri dari persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
3.       Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan.
Penyebab timbulnya kekalutan mental antara lain :
1.       Kepribadian yang lemah, hal ini terjadi akibat kondisi jasamni atau mental yang kurang sempurna. Hal-hal tersebut sering menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
2.       Terjadinya konflik sosial budaya, hal initerjadi akibat norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi. Misalnya orang pedesaan yang berat menyesuaikan kehidupan dengan kehidupan kota, serta orang tua yang telah mapan sulit menerima keadaan baru yang jauh berbeda dari masa jayanya dulu.
3.       Cara pematangan batin, merupakan hal yang salah dalam memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial.

D.   Penderitaan dan Perjuangan
Setiap manusia pasti mengalami penderitaan baik ringan maupun berat. Sebab penderitaan merupakan bagian dari kehidupan manusia yang sifatnya sebagai kodrat. Karena itu terserah kepada manusia itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan tersebut semaksimal mungkin, atau menghindari bahkan menghilangkan sama sekali.
Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Harus selalu ingat bahwa manusia yang merencanakan dan Tuhan lah yang memutuskan. Sebab kelalaian manusia lah yang menjadi sumber malapetaka yang menimbulkan penderitaan.

E.    Penderitaan, Media Massa, dan Seniman
Dalam era global seperti sekarang ini kemungkinan terjadi penderitaan itu lebih besar. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya kemajuan teknologi dan sebagainya yang menyejahterakan manusia dan sebagian lainnya membuat manusia menderita. Penciptaan bom atom, reaktor nuklir, pabrik senajata, peluru kendali, pabrik bahan kimia merupakan sumber peluang terjadinya penderitaan manusia. Hal ini sudah terjadi seperti bom atom yang dijatuhkan di Kota Hiroshima dan Nagasaki, kebocoran reaktor nuklir di Chernobyl, kebocoran gas beracun di India, penggunaan peluru kendali dalam perang Irak, dan berbagai penggunaan teknologi yang menyebabkan penderitaan kepada manusia.
Media massa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati. Begitupula komunikasi yang dilakukan para seniman yang menyalurkan informasi melalui karya seni agar kita dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni.

F.    Penderitaan dan Sebab-Sebabnya
Secara sederhana sebab-sebab timbulnya penderitaan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
A)     Penderitaan yang timbul karena perbuatan manusia
Penderitaan yang menimpa manusia ini berasal dari manusia lain yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini menyangkut dengan hubungan antar manusia dengan sesamanya. Hal ini bisa terjadi dimana saja baik dijalanan ataupun saat kita berada didalam suatu instansi bahkan saat kita berada dirumah. Perbedaan nasib baik dan buruk juga menjadi pemicu manusia untuk dicelakai atau mencelakai manusia lain sebab terdapat perasaan iri apabila manusia lain bernasib baik dan ingin menghancurkan nasib baik tersebut.
B)      Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan atau azab Tuhan
Penderitaan yang menimpa manusia yang berasal dari penyakit atau siksa/azab dari Tuhan. Hal ini menguji kesabaran, tawakal, dan optimisme dari manusia untuk mengatasi penderitaan tersebut. Sebab penyakit yang diberikan, serta siksa/azab yang diberikan oleh Tuhan hanyalah sebagai peringatan kepada kita agar kita tidak berpaling dari-Nya, dan Tuhan akan menggantikannya dengan keadaan yang lebih baik ketika kita mampu melewati hal tersebut dengan baik penuh kesabaran, tawakal, optimis, dan tetap berfikir positif terhadap segala penyakit, siksa/azab yang diberikan kepada kita.

G.   Pengaruh Penderitaan
Penderitaan yang dialami oleh manusia mungkin akan memperoleh pengaruh yang bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap yang negatif akan menyebabkan penyesalan, kekecewaan, putus asa, dan ingin mengakhiri hidup. Sedangkan sikap yang positif akan menjadikan manusia menjadi optimis dalam menghadapi penderitaan hidup karena hidup bukan hanya rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan dan penderitaan hanyalah bagian kecil dalam kehidupan.

Manusia dan Keindahan

Rangkuman Bab 5 Manusia dan Keindahan

A. Keindahan
Kata keindahan berasal dari kata indah yang memiliki arti bagus, cantik, elok dan sebagainya. Keindahan tidak dapat dipisahkan dari segi kehidupan manusia. Keindahan dapat ditemukan dimanapun dan kapanpun. Keindahan juga bersifat universal yang artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat ataupun daerah seseorang.
Keindahan dalam arti estetis murni menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Sedangkan dalam arti yang lebih sempit hanya menyangkut benda-benda yang indah dari segi bentuk dan warnanya.

B. Renungan
Kata renungan berasal dari kata renung yang memiliki arti diam dan memikirkan sesuatu dengan mendalam.
a)    Teori Pengungkapan
Teori ini memiliki dalil “Art is an expression of human feeling”. Teori ini bersangkutan dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni.
b)    Teori Metafisik
Teori ini merupakan salah satu teori yang tertua, karena berasal dari karya tulisan Plato yang membahas estetik filsafat, konsepsi keindahan dan teori seni. Menurut Plato seni merupakan tiruan dari realita ilahi.
c)    Teori Psikologis
Teori ini teori penandaan yang memandang seni sebagai suatu lambing atau tanda dari perasaan manusia. Menurut teori pendandaan karya seni itu adalah iconic signs dari proses psikologis yang berlangsung dalam diri manusia, khususnya tanda-tanda dari perasaannya.

C. Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena dan sesuai. Yang mana kata tersebut mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang.
Dalam pengertian perpaduan misalnya, orang berpakaian harus dipadukan warnanya bagian atas dengan bagian bawah, atau disesuaikan dengan kulitnya. Apabila cara memadu itu kurang cocok, maka akan merusak pemandangan. Sebaliknya apabila serasi dan benar maka akan terlihat memukau.

Karena itu dalam keindahan ini, sebagian ahli menjelaskan bahwa keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas/pokok tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kualitas yang paling sering disebut adalah kesatuan(unity), keselarasan(harmony), kesetangkupan(symetri), keseimbangan(balance) dan keterbalikan(contrast).

Review Paten dan Hak Cipta

      Dalam Undang-undang Hak Cipta tertulis bahwa Undang-Undang ini bertujuan untuk melindungi dan memberikan jaminan kepastian hukum bagi...